Siswa Memar, Guru Dilaporkan

D

POJOKJABAR.id, SUKABUMI – Seorang siswa SDN 3 Palabuhanratu, Aditya Daud Fahruzi (12), mengalami luka memar di pipi kananya setelah ditampar salah seorang oknum guru di tempatnya mengajar, Rabu (26/8). Tak hanya ditampar, Aditya juga diseret untuk membersihkan WC.

Perlakukan ini didapat siswa kelas VI sebagai hukuman karena ketahuan berkelahi dengan siswa lainnya. Meski tindakan ini bertujuan mendidik, namun hal ini tak diterima pihak orang tua Aditya yang lantas melaporkannya kepada polisi.

“Saya ditempeleng oleh guru saya lalu diseret ke WC dan disuruh membersihkan WC dengan mulut saya,” ungkap Aditya kepada Radar Sukabumi, kamis (27/8).


Ia menuturkan, kejadiannya saat jam pelajaran berlangsung. Oknum guru tersebut menghampiri karena berkelahi dengan empat temannya yaitu Sandi, Brasda, Kelvin, Faisal. Tetapi hanya Aditya yang ditempeleng.

“Yang lain tak diperlakukan seperti saya, malah saya yang diseret ke WC sampai tangan saya sakit. Peristiwa ini disaksikan teman sekelas,” terang warga Badakputih RT 02/09 Kelurahan Kecamatan Palabuhanratu ini.
Ibu korban Embid (50) mengungkapkan tak terima anaknya diperlakukan seperti itu, sehingga akan dibawa ke ranah hukum meski sebelumnya guru yang bersangkutan telah datang ke rumahnya dan meminta maaf. Hanya saja guru tersebut tak mengakui jika melakukan hal tersebut.

“Guru itu tak mengakui, katanya cuma mengusap dan suruh membersihkan WC saja. tapi anak saya malah mengalami sakit di lengannya dan memar di pipinya,” ungkapnya.

Terpisah, Kepala SDN 3 Palabuhanratu, Asep Hidayat mengatakan telah menanyakan hal tersebut kepada yang bersangkutan secara tegas, dan hasilnya guru tersebut tak sesuai yang diungkapkan keluarga dan keterangan korban.

Ia membenarkan, jika peristiwa itu awalnya dari perkelahian siswa di dalam kelas. Saat itu yang melerainya ialah wali kelas mereka yaitu bapak Mul. Ketika itu bapak Sunardi ikut dan itu pun memang tak ada kekerasan pada murid.

“Dalam hal ini pihak guru hanya melakukan bagian tugasnya mendidik muridnya, tanpa melakukan kekerasan sedikit pun. Saat di WC pak Sunardi, hanya mengusap kepala Aditya dengan air namun dan menyuruh membersihkan WC, itu pun tidak diseret,” ujarnya.

Menurut Asep, pihak keluarga dan pihak sekolah sebenarnya bisa menyelesaikan hal tersebut secara kekeluargaan karena melihat kondisi korban yang sekarang telah duduk di bangku sekolah kelas VI. Kalau pun keputusan keluarga yang telah melaporkan kejadian tersebut kepada pihak kepolisian, pihaknya tetap menerima.

“Mau gimana lagi sekarang sudah ada laporan ke kepolisian, kami harus hadapi dan mengatakan hal yang sebenarnya,” singkat Asep. (cr3/d)