Kedelai Melonjak, Pungusaha Tahu ‘Terkoyak’

PRODUKSI: Salah seorang pegawai pabrik tahu terlihat sedang memproduksi tahu di pabriknya yang berada di Benteng Brunei, RT 04/09, Kelurahan Benteng, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi.
PRODUKSI: Salah seorang pegawai pabrik tahu terlihat sedang memproduksi tahu di pabriknya yang berada di Benteng Brunei, RT 04/09, Kelurahan Benteng, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi.
PRODUKSI: Salah seorang pegawai pabrik tahu terlihat sedang memproduksi tahu di pabriknya yang berada di Benteng Brunei, RT 04/09, Kelurahan Benteng, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi.

POJOKJABAR.id, WARUDOYONG – Kenaikan harga kacang kedelai yang mulai terjadi di beberapa daerah, kini mulai melanda Kota Sukabumi. Kondisi semacam ini tentu saja menuai protes dari sejumlah pihak, setelah sebelumnya para pedagang mengeluhkan daya beli masyarakat yang semakin rendah akibat harganya semakin naik, bagi pengusaha tahu hal ini menjadi ancaman terbesar. Bagaimana tidak, dengan melonjaknya harga kacang kedelai ini, produksinya kini menjadi semakin menurun dari sebelumnya. Hal ini diungkapkan oleh Komarudin (54), pemilik pabrik tahu yang berada di daerah Benteng RT 04/09 Kelurahan Benteng Kecamatan Warudoyong Kota Sukabumi kepada Radar Sukabumi saat mengunjungi pabriknya, KamisĀ (27/8/15).

Menurutnya, kenaikan harga kedelai yang terjadi saat ini membuatnya (Komarudin, red) kewalahan dalam hal produksi. Jika sebelumnya dalam sehari dirinya mampu memproduksi tahu dengan kacang kedelai sebanyak 60 kilogram per hari, kini ia harus mengurangi jumlah produksinya hingga 20 sampai 40 kilogram per hari. Jika tiap 10 kilogramnya, ia dapat menghasilkan sebanyak 500 potong tahu dengan harga per buahnya 300 rupiah. Maka kini, dengan 40 kilogram kedelai, dirinya hanya bisa menghasilkan 2 ribu potong tahu yang bernilai Rp600 ribu saja.

Tak hanya itu, hasil produksi tahunya tersebut harus dirinya jual sendiri ke pasaran. Menurutnya, pemasaran inilah yang paling sulit, sebab selain banyaknya saingan, dalam sehari hasil penjualannya tidak menentu. Terkadang habis, namun tak jarang pula ia membawa pulang lagi dagangannya tersebut. Disinggung mengenai susahnya mendapatkan barang baku, dirinya membantah. Ia justru merasa aneh, sebab kedelai sendiri mudah didapat karena impor yang dilakukan pun terus berjalan.

“Saya nggak tahu kenapa mahalnya begini, padahal banyak stoknya di pasaran. Tapi sudah dua bulan ini harganya nggak turun-turun,” jelas pria yang memulai usahanya sejak tahun 1985 tersebut.


Sebelumnya harganya tidak pernah separah ini, jika memang mengalami kenaikan, tapi biasanya dalam beberapa waktu harganya akan turun kembali. Namun sekarang ia terpaksa harus membeli kedelai di toko langganannya yang berada tak jauh dari lokasinya dengan harga Rp7.500 per kilogram, naik dari harga sebelumnya yang hanya Rp6.400 per kilogram. Pihaknya berharap, pemerintah dapat memperhatikan nasib pengusaha kecil seperti dirinya dengan membuat harga bahan baku menjadi terjangkau sehingga usaha milik keluarga yang dirintisnya tersebut tidak gulung tikar. (pkl7/d)