Pedagang Sapi Kurban ‘Menjerit’

SAPI KURBAN: Seorang pekerja memberi makan hewan ternak sapi yang akan dijual untuk kebutuhan Hari Raya Idul Adha mendatang.

POJOKJABAR.id, WARUDOYONG – Sejumlah pedagang sapi kurban mulai betebaran menjelang Idul Adha 1436 H. Namun, kemunculan tersebut dibarengi dengan ‘jeritan’ pedagang yang merasa kesulitan mendapatkan sapi kurban yang langka di pasaran akibat kebijakan pemerintah membatasi impor sapi. Hal itu jelas berdampak pada penjualan hewan sapi kurban saat ini. Selain harganya mengalami kenaikan hingga 20 persen, para pedagang hewan kurban juga mengeluhkan sulitnya mendapatkan hewan kurban.

Ichwan Hamid (40) salah seorang pedagang sapi yang sudah mulai menawarkan sapi kurban sejak Selasa (25/8/15), di Jalan Nyomplong Kecamatan Warudoyong Kota Sukabumi mengatakan, saat ini dirinya kesulitan mencari sapi untuk kurban, lantaran populasi sapi kurban yang semakin berkurang. “Ada kenaikan sekarang sekitar 20 persen sehingga penjualannya pun kita juga naik 20 persen,” terang Ichwan kepada Radar Sukabumi, Selasa (25/8/15).

Kosongnya sapi berlangsung sejak pemerintah memberlakukan pembatasan sapi impor yang masuk ke Indonesia, sementara kebutuhan hewan sapi untuk potong dan kurban mendatang sangat tinggi. Ia mengaku bahwa untuk harga sapi kurban mengalami kenaikan hingga 20 persen dari harga sebelumnya. Kenaikan dipicu karena adanya pembatasan kuota impor. Saat ini harga sapi kurban berkisar Rp12 juta hingga Rp60 juta per ekor dengan bobot bervariatif mulai 250 kilogram hingga 1 ton. Tidak hanya itu, sulitnya sapi kurban dengan harga yang mahal juga mengakibatkan sejumlah pedagang sapi kurbannya banyak yang gulung tikar karena tidak mampu membeli sapi dengan harga yang mahal.

“Untuk tahun ini peluangnya cukup bagus, karena pedagang sapi kurban yang berjualan setelah harga beli yang melambung tinggi,” ungkapnya.


Namun meski mengalami sedikit kesulitan, diakui pria yang juga hobi membudidaya ikan koi di Kota Sukabumi ini tidak terlalu dikhawatirkan. Pasalnya, ia sudah mendapat stok yang cukup banyak untuk dijual tinggal mencari kekurangan hewan kurban lainnya.

“Antisipasinya, kebetulan stok kita sudah cukup, mungkin kalau nanti permintaan tidak sebanding dengan stok yang ada kita tinggal mencari kekurangannya,” terangnya.

Lebih lanjut ia menambahkan, setiap konsumen yang membeli sapi kurban di ternaknya tersebut ada sertifikasi kesehatan dari dokter hewan yang sudah ditunjuk langsung Dinas Peternakan Kota Sukabumi.

“Alhamdulilah, sapi-sapi yang dijual bebas dari penyakit atraks karena sebelumnya sudah mendapat pemeriksaan dari dokter hewan Dinas Peternakan Kota Sukabumi,” pungkasnya. (wdy/d)