Temuan Kasus HIV Diklaim Turun

POJOKJABAR.id, CIKOLE – Jumlah penemuan kasus HIV/AIDS baru di Kota Sukabumi tahun ini diklaim mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, hal itu tidak bisa mencerminkan bahwa jumlah penderita penyakit tersebut turun. Sebab, masih banyak kasus HIV/AIDS yang belum ditemukan karena penderita tidak menyadarinya, dan mereka tidak sadar untuk melaporkan keberadaannya.

Menurut Ketua Komisi Penanggulangan AIDS Kota Sukabumi, Achmad Fahmi, jumlah penemuan kasus sepanjang tahun ini tercatat 73 orang sampai dengan bulan Juni. Kondisi ini menyebabkan Kota Sukabumi turun dari peringkat keempat dengan temuan kasus barunya di Jawa Barat, menjadi peringkat kesepuluh di Jawa Barat.

“Meski penemuannya turun, bukan berarti jumlah penderitanya juga ikut turun. HIV/AIDS itu seperti fenomena gunung es. Banyak yang tidak terekspos karena sifatnya sangat tertutup. Kasus yang kami temukan sebagian besar adalah yang sudah parah. Itu pun hanya laporan dari rumah sakit tanpa ada daftar namanya,” katanya. Akibat kerahasiaan daftar nama penderita HIV/AIDS, banyak petugas kesehatan mengalami kesulitan memantau penyebaran penyakit tersebut. “Kalau ada daftar nama, kita bisa segera memutus mata rantai supaya tidak menular ke yang lain. Tetapi sesuai dengan kesepakatan internasional, penyakit tersebut memang bersifat rahasia,” katanya.


Berdasarkan data yang diperoleh KPA dari Dinas Provinsi Jawa Barat, tahun ini Kota Sukabumi mengalami penurunan temuan kasus baru HIV, dari peringkat 4 menjadisepuluh. Banyak faktor yang menyebabkan penurunan tersebut, apakah memang kasus barunya bisa ditekan karena layanan kesehatannya sudah bagus atau karena memang sulit untuk menemukan kasus baru. “Banyak faktor yang menjadi penyebab Kota Sukabumi menjadi turun dalam temuan kasus baru HIV/AIDS. Ini akan kita evaluasi bersama dengan Dinas Kesehatan dan LSM. Agar kita bisa lebih giat kembali untuk pencarian kasus baru HIV di Kota Sukabumi,” jelasnya.

Menurut Fahmi, selain temuan kasus HIV yang turun, Kota Sukabumi juga mengalami penurunan pada kasus AIDS-nya. Saat ini Kota Sukabumi ada di peringkat ketujuh untuk kasus AIDS. Sebelumnya masuk lima besar di Jawa Barat. Penularan paling tinggi terjadi karena hubungan seks heteroseksual. Daerah yang tingkat kerawanannya cukup tinggi adalah wilayah Warudoyong, Cikole dan Baros. Menurut Fahmi, masih banyak masyarakat yang tidak mengenali gejala-gejala HIV/AIDS. Akibatnya pengobatan selalu terlambat dan sebagian besar kasus berujung pada kematian. Gejala- gejala itu meliputi batuk kronis, bercak gatal di kulit, menderita herpes secara berulang, dan demam berkepanjangan.

Sementara itu, Pengelola Program KPA Kota Sukabumi, Yanti Rosdiana, menambahkan, berdasarkan pelaporan pendampingan yang dilakukan LSM dalam semester ganjil 2015 ini, jumlah ODHA yang terbanyak masih ditemukan di kelompok penasun sebanyak 28 persen, diikuti kelompok WPS sebanyak 25 persen, dan lelaki seks lelaki sebanyak 11 persen. ‚ÄúDari target yang diberikan nasional memang kita masih punya PR yang berat untuk mencari kelompok berisiko tinggi yang rentan tertular HIV. Dengan kerja sama yang bagus antar lintas sektor diharapkan dapat mencapai target yang diberikan nasional tersebut,” jelasnya.

KPA masih terus memperluas sosialisasi HIV di berbagai kelompok masyarakat diharapkan dapat mendorong mereka untuk memeriksakan HIV-nya ke layanan. Tentunya ini tidak lepas dari peran layanan kesehatan atau Dinas Kesehatan yang juga terus memperbaiki layanan kesehatannya terutama HIV kepada masyarakat. Sebanyak 15 puskesmas saat ini di Kota Sukabumi dapat melaksanakan pemeriksaan HIV. Kondisi ini didukung dari peran pendamping dan penjangkau dari LSM yang ada di Kota Sukabumi. (*/wdy)