Pemkot Siap Awasi Peredaran Tiren

POJOKJABAR.id, CIKOLE – Pemerintah Kota (Pemkot) Sukabumi dalam hal ini Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) mengatakan akan lebih meningkatkan pengawasan potensi terjadinya peredaran daging ayam mati kemaren (tiren). Hal tersebut dilakukan seiring dengan terjadinya lonjakan harga daging ayam yang semakin tinggi.

“Dalam fungsi pengawasan, kita akan mengawasi lebih ketat peredaran daging ayam potong, juga daging sapi. Meskipun diprediksi terjadinya fluktuasi harga daging ayam potong tak akan berlangsung lama,” jelas Ketua TPID Kota Sukabumi, Hanafie Zain, Jumat (21/8/15).

Menurutnya, TPID tak bisa melakukan intervensi pengendalian harga terhadap komoditas daging sapi atau daging ayam. Pasalnya, komoditas tersebut tidak tersedia stok, beda dengan komoditas beras yang selalu tersedia di Bulog.


“Kalau daging ayam atau daging sapi itu sulit diintervensi karena tak ada stok. Kalau beras kan stoknya tersedia di Bulog. Jadi ketika harga beras naik, kita bisa koordinasi dengan pihak Bulog untuk menjual beras murah,” jelasnya.

Sementara itu, faktor naiknya harga daging ayam potong saat ini, menurut Hanafie, satu di antaranya akibat mahalnya bahan dasar pembuatan pakan, yakni jagung. Di saat nilai tukar Dollar Amerika saat ini bertengger di posisi hampir Rp14 ribu, harga pakan jelas melonjak karena hampir 70 persen bahan jagung masih diimpor.

“Mestinya, dari dulu pemerintah itu sudah konsentrasi untuk menanam jagung. Lahan dan petani kita banyak. Makanya, kesempatan ini dimanfaatkan mafia untuk mengambil keuntungan,” katanya.

Untuk itu Hanafie menyarankan kepada masyarakat agar sementara waktu konsumsi ikan jika harganya masih tetap mahal. Terkecuali bagi konsumsi industri rumahan yang membutuhkan bahan-bahan dasar daging ayam atau daging sapi.

“Tak perlu emosional juga menyikapinya seperti melakukan aksi demo,” ungkapnya.

Sementara mengenai masalah sejumlah harga komoditas sayuran yang ikut naik juga, Hanafie melihatnya sebagai momentum insidentil. Pasalnya, kondisi tersebut berkaitan erat dengan kondisi cuaca. “Sebetulnya lebih kepada faktor akibat musim kemarau. Nanti jika sudah memasuki musim hujan, harga-harga pasti akan turun lagi,” ungkapnya. (bal/d)