Nasib Delman Semakin Tersingkirkan

POJOKJABAR.id, Sukabumi – Jika Anda ditanya kendaraan apa yang pertama digunakan orang dahulu untuk mengangkut barang, pasti 90 persen orang menjawab kendaraan tradisional delman yang pertama dikatakan. Betapa tidak, kendaraan ini merupakan kendaraan pertama digunakan orang-orang tanah Jawa maupun Nusantara untuk keperluan sehari-hari. Dengan zaman yang semakin berkembang semakin banyak pilihan alat transportasi yang digunakan.

Transportasi tradisional delman mulai terlupakan. Hal ini semakin dikuatkan dengan pemandangan beberapa delman yang berjajar di Perempatan Jalan Suryakencana, Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi yang terlihat sepi tanpa pekerjaan. Beberapa pengemudi delman ini terlihat termenung, bahkan di antaranya ada yang sampai terkantuk-kantuk karena menunggu penumpang yang tak kunjung datang saat ditemui Radar Sukabumi, Jum’at (21/8/15).

Maman (50) misalnya, ia menjelaskan pendapatannya sudah dua tahun ini semakin menurun akibat kalah saing dengan alat transportasi lain yang lebih murah. Tarif delman sendiri dihitung berdasarkan jauh dekatnya jarak yang ditempuh, selama ini jarak paling dekat adalah daerah Cipelang Kecil dengan ongkos tarif sebesar Rp17 ribu, sedangkan jarak paling jauh yang pernah ditempuhnya adalah daerah Cibadak dengan ongkos tarif sekitar Rp70 ribu sampai Rp100 ribu rupiah. “Pendapatannya nggak tentu, kadang cuma dapet Rp15 ribu juga pernah, tapi kalau lagi rame, Alhamdulillah lima kali narik bisa dapet Rp100 ribu hingga Rp300 ribu sehari,” ujar pria bertubuh subur itu.

Selama ini ia belum pernah merasakan kepedulian dari pemerintah terkait nasibnya. Pasalnya jangankan perhatian, tempat khusus untuk memarkir delman pun tak ada. Terpaksa, Maman dan rekan-rekan sesama penarik delman lainnya pun memarkirkan delmannya secara tidak teratur. Kondisi semakin berkurangnya penumpang yang membuat pendapatannya tidak menentu semakin dipersulit karena delman yang digunakannya narik selama ini ternyata bukan milik pribadi, melainkan ia dapatkan dari tempat penyewaan yang berada di daerah Ciaul Pasir. Sehingga per harinya ia harus memberikan setoran kepada pemilik delman sebesar Rp25 ribu.


Disinggung mengenai ketertarikannya untuk beralih profesi, ia mengaku mantap dengan pekerjaan yang ia geluti sekarang ini. Ia meyakini bahwa profesinya ini adalah jalan terbaik yang dipilihnya untuk menjemput rezeki.
“Setiap orang mah pasti punya rezeki masing-masing, mau banyak mau dikit, yang penting saya udah berusaha narik delman. Soal rame apa enggaknya mah biasa lah,” pungkasnya. (pkl7/d)