Pedagang Ayam Batal Mogok

Pedagang ayam potong batal mogok jualan

POJOKJABAR.id, CIKOLE – Para pedagang ayam potong yang berada di penampungan sementara Pasar Pelita Kota Sukabumi batal menggelar aksi mogok jualan. Aksi yang sebelumnya direncanakan selama empat hari (Kamis , sampai Minggu ke depan ternyata batal dilakukan, lantaran tengkulak dirasa belum kompak. Berdasarkan pantauan koran ini, sejumlah pedagang ayam potong terlihat masih menggelar dagangannya hingga kemarin.
Rencana aksi mogok serentak tersebut sebelumnya akan digelar di beberapa kota besar seperti Bandung, Bogor hingga Jakarta. Namun, rencana tersebut enggan dilakukan oleh pedagang Kota Sukabumi meski harga daging ayam melambung tinggi.

Ujang Jamaludin (34), salah satu pedagang ayam di Pasar Pelita Kota Sukabumi ini mengaku jika aksi mogok dagang batal dilakukan, lantaran para penyalur daging ayam masih belum kompak. “Seharusnya, hari ini (kemarin) kita mulai mogok dagang, tapi karena tengkulaknya belum kompak jadi belum ada kesepakatan antar pedagang. Seharusnya kita para pedagang berunding dulu, apalagi di Sukabumi pemasok ayam terbesar,” kilahnya kepada Radar Sukabumi.

Meskipun ada beberapa pedagang yang masih berjualan, namun sebagian besar banyak pedagang ayam di pasar tersebut menutup dagangannya lantaran banyak lapak pedagang yang kosong akibat stok terbatas dengan harga yang melambung tinggi. Dari pantauan Radar Sukabumi, saat ini harga daging ayam mencapai Rp42 ribu per kilogram. Sementara harga di tengkulak masih kisaran harga Rp25 ribu untuk ayam hidup. Diakui Ujang, dengan harga yang tinggi dari peternak, ia hanya bisa meraup keuntungan Rp1000 per ekor, sementara modal dari menjual ayam sekitar Rp40 ribu per kilogram dengan daya jual ke konsumen kisaran Rp38 ribu sampai Rp42 ribu per kilogram, sehingga hal tersebut membuat sejumlah pedagang ayam terus merugi setiap harinya. “Yah kalau gini terus kita bisa rugi, bahkan sekarang omzet turun sampai dengan 50 persen,” ujarnya saat ditemui wartawan Radar Sukabumi, kemarin (20/8) pagi. Menurutnya, harga normal jual daging ayam sekitar Rp28 ribu sampai Rp30 ribu per kilogram. Bahkan saat harga normal, dirinya mampu menjual 600 sampai 700 ekor per hari sedangkan sekarang ia mampu menjual setengahnya saja.


Sementara itu, Encep (26) Pedagang ayam potong mengaku dipusingkan lantaran harga ayam yang kini apung-apungan (semakin melonjak). Ia juga mengeluhkan bahwa harga jual dianggapnya tidak seimbang. Jika harga ayam hidup kini dihargai Rp25 ribu, harga jualnya mencapai Rp38 ribu per kilogramnya. Hal ini merupakan kenaikan paling fantastis, sebab sebelumnya harga ayam hidup paling mahal dibandrol seharga Rp20 ribu dan bisa dijual Rp30 hingga Rp32 ribu perkilogramnya. “Pusinglah, harganya apung-apungan. Padahal seharusnya setelah lebaran kan harganya turun. “keluhnya

Selain itu ia mengaku omzet penjualannya kini menurun drastis hingga 50 persen. Jika sebelumnya ia biasa menjual 200 kilogram ayam perhari dari 100 ekor pasokan ayam, kini ia hanya mampu menjual sekitar setengahnya saja. “Pasokannya saya kurangi, daripada ngambil resiko dagangan nggak habis kan rugi nantinya”terangnya
Hal yang sama juga terjadi di tempat lain, Pasar Ciwangi misalnya, para pedagang yang berada di kawasan ini juga terlihat sepi pembeli. Bahkan hanya beberapa pedagang saja yang terlihat masih bertahan berjualan ayam. Asep (29) salah satunya, pedagang Ayam potong yang berada di kawasan ini mengatakan pihaknya jarang melayani pembeli karna harganya yang semakin tidak terjangkau. ” Kebanyakan orang nggak kebeli ayam, harganya mahal. Naiknya hampir Rp4 ribu sampai Rp6 ribu perkilonya.”Ia berharap kepada Pemerintah agar harga ayam segera membaik dikarenakan kondisi ini membuat omzetnya semakin turun dari hari-hari sebelumnya.