28 Hektare Sawah Kekeringan

 

138043_620

POJOKJABAR,ID, CIKOLE – Sekitar 28 hektare sawah dari luas seluruhnya 1,538 hektare yang ada di Kota Sukabumi terkena dampak kekeringan, dan dipastikan jumlah tersebut akan bertambah luas seiring dengan kondisi cuaca yang belum ada tanda-tanda memasuki musim hujan. “Mayoritas daerah yang terancam kekeringan di wilayah Kecamatam Cibeureum,” ujar Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Sukabumi, Kardina Karsoedi, Kamis (21/8/2015).

Untuk tahun ini, kekeringan tak terlalu banyak berpengaruh kepada sektor pertanian. Sementara secara produktivitas tidak terjadi degradasi signifikan. Artinya, produksi padi diklaim masih relatif stabil, tidak sampai mengganggu tingkat produktivitas. “Tingkat produktivitas padi di Kota Sukabumi itu sekitar 8 ton per haktare. Jika menghitung luasan lahan yang terancam, dampak kekeringan itu diprediksi hanya mengganggu sekitar 6,7 persen tingkat produktivitas,” katanya.


Ia menjelaskan relatif sedikitnya lahan sawah yang diprediksi terdampak musim kemarau ini, lantaran selama ini pasokan air terbilang normal. Meskipun begitu, upaya antisipasi terjadinya kekeringan sudah mulai disiapkan sejak memasuki musim kemarau. Termasuk memberikan sosialisasi kepada para petani melalui kelompok-kelompok tani menyangkut upaya-upaya penanganan kekeringan.

“Antisipasi tentunya kami lakukan karena musim kemarau itu kan seperti rutin terjadi setiap tahun. Dengan adanya upaya sosialisasi itu maka timbul sinergitas dalam melakukan upaya-upaya pencegahan dan penanganan kekeringan,” pungkasnya.

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan sudah mengimbau para petani untuk mengantisipasi potensi terjadinya ancaman kekeringan. Utamanya ancaman di lahan-lahan persawahan yang membutuhkan banyak pasokan air.
“Kami sudah menyarankan kepada para petani untuk tidak menanam komoditas yang membutuhkan air banyak saat musim kemarau saat ini,” ujarnya.

Sementara itu, Walikota Sukabumi, M Muraz mengatakan akan mengadakan salat Istisqo, agar musim kemarau yang berkepanjangan ini bisa berakhir. Sumber air merupakan hal sangat urgent (darurat) bagi masyarakat apalagi untuk kalangan petani. “Dalam waktu dekat ini kita akan salat meminta hujan, kita hanya bisa berusaha yang menentukan Allah,” ujarnya.