Gawat, Walikota ‘Diserang’ Pedagang

MENGELUH: Sejumlah pedagang mengeluh kepada Walikota Sukabumi, M Muraz, saat meninjau lokasi penampungan sementara Pasar Pelita

MENGELUH: Sejumlah pedagang mengeluh kepada Walikota Sukabumi, M Muraz, saat meninjau lokasi penampungan sementara Pasar Pelita

POJOKJABAR.id, SUKABUMI – Walikota Sukabumi M Muraz ‘diserang’ keluhan sejumlah pedagang Pasar Pelita yang kini menduduki lokasi tempat penampungan sementara (TPS) di eks lahan Pertamina Jalan Tipar Gede Kecamatan Citamiang, Selasa (18/8/2015). Ungkapan pedagang dilontarkan saat Muraz memantau sekaligus meresmikan kios TPS.

Dadang Saepudin, Wakil Ketua Paguyuban Pasar Pelita, mengatakan, pedagang yang sudah mendiami sekitar sepuluh hari di penampungan pasar ini mengeluh. Lantaran kurangnya minat masyarakat untuk melakukan transaksi jual beli di lokasi ini.

“Kalau tempat penampungannya cukup nyaman dan enak. Yang menjadi masalah rata-rata omzet pedagang turun drastis bahkan pedagang yang sudah dagang di sini pergi lagi,” ujar Dadang kepada Radar Sukabumi (Grup Pojoksatu).

Dadang menjelaskan faktor penyebabnya, pedagang yang dulunya berada di dalam Pasar Pelita tidak kompak pindah ke penampungan. Mereka lari ke tempat lain di sekitar Pasar Pelita seperti pasar auning yang berada di Jalan Stasiun dan ke Gang Peda.

“Otomatis pedagang yang ada di sini tidak komplit dan imbasnya pembeli lebih memilih beli di pasar lain,” jelasnya.

Tak hanya itu, akses jalur penampungan belum berpihak kepada penampungan pasar, sebab dominasi pembeli saat di Pasar Pelita kebanyakan dari daerah Cisaat. Sementara akses untuk masuk penam-pungan ini tidak dilalui oleh pembeli tersebut.

“Konsentrasi angkot tidak di sini jadi angkot yang jalur sini hanya sebatas lewat saja,” katanya.

Bahkan dirinya berharap pemerintah bisa memikirkan untuk pemecahan solusi sepinya pembeli. Jangan sampai ini terjadi terus menerus karena pedagang bisa merugi. Selain itu para pedagang semestinya menempati lokasi ini jangan sampai menyebar.

“Saya berharap pemerintah dengan cepat mengambil langkah agar tidak terjadi sepi pembeli,” tandasnya.

Hal senada dikatakan oleh pedagang telur, Asep Kodir, semenjak pindah dagang ke re-lokasi ini, omzet penjualan turun drastis mencapai 50 persen. Itu karena pembeli merasa malas untuk datang ke penampungan ini.

“Langganan sudah dikasih tahu namun tetap saja masih sepi, ini ibaratnya kita jualan dari awal, harus cari langganan lagi,” ungkapnya.

Selama sembilan hari, dirinya mengaku berjualan di sini sangat turun drastis, biasanya dalam waktu satu bulan bisa menjual sebanyak 15 peti telur sekitar Rp4 juta. Ini baru juga sepuluh hari, ia hanya bisa menjual sebanyak dua peti saja.

“Ya ini memang kerugian besar buat kami, mudah-mudahan ini hanya berjalan sementara saja,” jelasnya.

Tak hanya itu, pedagang rampe, Lili merasakan dampak sepinya pembeli. Sudah selama seminggu pembeli rampe bisa dihuting jari. Dirinya berharap pemerintah bisa memberikan solusi agar tidak terjadi kepanjangan.

“Ya penjualan rampe saya sepi banget, coba kalau akses angkot semua lewat sini,” ujarnya.

Sementara itu, Walikota Sukabumi M Muraz menjelaskan kurangnya minat pembeli itu hal yang wajar karena baru hari ini kita lakukan peresmian pembu-kaan penampungan Pasar Pelita sementara dan para pedagang belum masuk semuanya ke sini. Tetapi Muraz akan mengevaluasi kembali hal-hal yang menjadi kekurangan penampungan ini.

“ Ya, saya akan memanggil staf saya untuk mengkaji dan mengevaluasi kembali apa yang harus dibenahi,” bebernya.

Mengenai banyaknya pedagang yang pindah tempat ke area luar Pasar Pelita, ia akan berkoordinasi untuk dinas terkait untuk bisa membawa pedagang untuk mengisi tempat ini. Jangan sampai tempat disini dijadikan gudang saja, sementara berjualan di tempat lain. Untuk jalur angkot pun masih kita lakukan pengkajian agar semua masuk dan berkonsentrasi di areal ini.

“Pokoknya hari ini juga saya akan evaluasi agar para pedagang tidak merugi dan pembeli pun banyak berdatangan ke sini,” terangnya.

Di tempat terpisah, Anggota DPRD Kota Sukabumi dari Fraksi Hanura, Bayu Waluya, mengatakan melihat pemindahan relokasi pasar ini dirinya menga-presiasi pemerintah bisa berjalan aman dan kondusif. Penampun-gan pun tempatnya representatif untuk menjadi tempat transaksi antara pedagang dan pembeli.

“Saya apresiasi terhadap pemerintah bisa menyediakan tempat yang nyaman dan proses pemindahannya pun lancar,” ujarnya.

Namun mengenai banyaknya pedangan yang berpindah tempat ke lokasi luar areal Pasar Pelita, dirinya mendorong pemerintah untuk bisa bersikap tegas. Para pedagang semuanya harus bisa menempati lokasi ini agar tidak terjadi kekosongan pembeli.

“Dinas terkait dan Satpol pp harus bisa tegas untuk menggiring mer-eka ke sini,” pungkasnya. (bal/dep)

Feeds