Omzet Penggilingan Daging Merosot

Penggilingan Daging
Penggilingan Daging
Penggilingan Daging

POJOKJABAR.id, SUKABUMI – Penggilingan daging di Pasar Pelita, Kota Sukabumi terlihat sepi. Hal ini setelah harga daging terus meroket hingga Rp 125 ribu per kilogram. Seperti yang terjadi di Penggilingan Daging Tiga Dara yang berada di pasar tradisional terbesar di Kota Mochi ini. Salah satu karyawannya, Indro, mengaku konsumen yang menggiling daging di tempatnya berkurang tak seperti biasa.

Normalnya, ratusan konsumen datang ke tempat ini. Namun, pasca harga daging sapi melambung disertai stok yang sulit, kini hanya 60 konsumen yang menggu-nakan jasa penggilingan tersebut.

“Biasanya ramai, kita bisa meladeni konsumen hampir ratusan kalau sekarang paling juga 50 – 60 konsumen. Itu juga sedikit dagingnya, hanya beberapa kilo saja daging sapi yang digiling,” ujar Indro saat ditemui Radar Sukabumi (Grup Pojoksatu) di lapaknya, Selasa (11/8/2015).

Akibatnya, omzet yang diraih turun drastis. Dampak kelangkaan daging sapi pun juga dirasakan oleh pedang lainnya, seperti para pedagang bakso. Mereka mengaku sulit mencari daging sapi, serta mahalnya harga yang dinilai terlalu mem beratkan pedagang. Ibu Suyatmi misalnya, pemilik kios bakso Sari Rasa yang beralamat di Pasar Lettu Bakri, Kota Sukabumi ini mengaku penjualan baksonya tidak terpengaruh dengan isu kelangkaan daging sapi.


Pihaknya mengatakan, memperoleh daging dengan cara memasok dari luar daerah atau melakukan pemotongan sendiri. Meski harga daging mahal, tapi Suyatmi tidak menaikkan harga bakso yang dijualnya.

Ia menyiasatinya dengan porsi bakso yang disesuaikan. Ia juga harus menyiasati be-lanja daging. Bahkan, terpaksa ia harus mendapatkan pasokan dari luar Sukabumi seperti dari Cianjur.

Sementara itu, salah satu pedagang daging PD Bersaudara, Fikri Maulana menyebutkan,
kelangkaan daging tersebut disebabkan berkurangnya kuota daging impor yang sebe-lumnya seratus ribu ekor kini hanya lima puluh ribu ekor. Kelangkaan seperti sekarang ini, banyak menimbulkan ke-waspadaan masyarakat terkait merebaknya isu daging celeng di pasaran.

“Ya, dari tekstur daging-nya sendiri bisa dibedakan dari seratnya. Kalau dag-ing sapi seratnya lebih besar ketimbang daging celeng. Tapi dari aromanya juga biasanya bisa kecium sangat beda,” ujar Fikri.

Pihaknya juga berharap, masyarakat hendaknya meningkatkan kewaspadaan apabila ada yang menawarkan daging dengan harga yang lebih murah dari pasaran. Lantaran dikhawatirkan daging tersebut bukanlah daging sapi, melain-kan daging celeng.

“Masyarakat harus hati-hati saja kalau ada yang jualan daging lebih murah dibanding dengan harga di pasar,” imbaunya. (pkl7/wdy/dep)