Sisa Tiga Lapak Pedagang Daging di Sukabumi

SEPI: Pedagang di Pasar Cibinong sedang memotong daging yang akan dijual.
SEPI: Pedagang di Pasar Cibinong sedang memotong daging yang akan dijual.
Ilustrasi

POJOKJABAR.id, SUKABUMI – Peredaran daging sapi baik lokal maupun impor langka di pasar tradisional Kota dan Kabupaten Sukabumi. Tak sedikit para pedagang yang gulung tikar, akibat ketersediaan daging sapi lokal terbatas, hingga meroketnya harga di pasaran.

Pantauan Radar Sukabumi (Grup Pojoksatu), di Pasar Gudang Kota Sukabumi misalnya. Tidak semua pedagang membuka lapaknya, lantaran sulitnya mendapat pasokan daging sapi. Terlihat ada sekitar tiga lapak yang masih bertahan untuk tetap berjualan. Namun, daging yang mereka jual merupakan daging sapi lokal kiriman dari Cianjur.

Dedi (40), pedagang sapi di Pasar Gudang menuturkan, lonjakan harga daging sapi diakibatkan minimnya stok daging sapi impor di Sukabumi. Biasanya, mereka mengambil barang (daging sapi,red) dari PT.

“Sekarang kita mengambil barangnya dari Cianjur, jadi pake sapi lokal. Sebab sapi impor lagi langka,” keluh Dedi kepada Radar Sukabumi, Senin (10/8/2015).


Ia menambahkan, dengan langkanya tersebut berimbas pada harga daging sapi di Sukabumi yang saat ini mencapai Rp 120 ribu per kilogram (kg). Padahal kata dia, biasanya daging sapi ini dijual Rp 105 ribu per kg. Ia memprediksikan, mahalnya harga daging sapi ini hingga lebaran Idul Adha.

“Selepas Idul Qurban, setelah itu pasokan daging dan harga pun kembali normal,”ujarnya.

Akibat meroketnya harga daging, peminatpun berkurang. Konsumen memilih belanja daging ayam, ketimbang daging sapi.

“Kecuali konsumen yang benar-benar harus menggunakan daging sapi. Yang belanja masih ada, tapi tidak seramai saat harganya murah,”akunya.

Biasanya, dua ekor sapi bisa Dedi jual. Dengan kenaikan harga ini, kini untuk menjual daging berukuran satu ekor sapi saja, dirinya kelabakan.

“Sudah harga mahal, barangnya sulit, jadi bingung saya juga. Tapi kita di sini tetap ber-jualan, sebab konsumen butuh. Oleh karena itu, kita tidak ikut berdemo. Sebab, stok masih ada meskipun hanya pakai sapi lokal,” tuturnya.

Ia berharap, kondisi seperti ini bisa segera dilalui dan kembali normal. Sehingga pemasukan para pedagang pun bisa kembali normal.

“Pemerintah Sukabumi harus turun tangan untuk mengatasi ini semua,” urainya seraya berharap.

Senada dikatakan pedagang lainnya, Dadang OB (42), menyebutkan, setelah lebaran Idul Fitri hingga kini belum ada penurunan harga daging sapi.

“Biasanya hanya Rp 111.000 per kg. Namun, sejak Idul Fitri sampai sekarang harganya masih diangka Rp 125 ribu/kg,” bebernya.

Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Kadiskoperindag) Kota Sukabumi, Ayep Supriatna mengakui jika kenaikan harga daging sapi dirasakan dari Idul Fitri. Begitu pula dengan harga ayam yang terus naik. Ini disebabkan Sukabumi bukan produsen, melainkan konsumen.

“Harga daging ayam saja kini Rp 37 ribu per kg, padahal harga sebelumnya diangka Rp 27 ribu. Karena Kota Sukabumi bukan pelaku utama dalam perputaran penjualan daging, melainkan hanya sebatas kon-sumen,” jelasanya.(pkl5/lan/dep)