Wangsa Suta Kembali ‘Kasohor’

GAGAH BERANI : Para penari seni tari tradisional Catrik Palagan Kota Sukabumi sedang membawakan tarian pertempuran Wangsa Suta dengan Ki Demang dalam memperebutkan Nyi Pundak Arum pada acara Rengkak Tandang Tari Kreasi Jawa Barat yang dilaksanakan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII)
GAGAH BERANI : Para penari seni tari tradisional Catrik Palagan Kota Sukabumi sedang membawakan tarian pertempuran Wangsa Suta dengan Ki Demang dalam memperebutkan Nyi Pundak Arum pada acara Rengkak Tandang Tari Kreasi Jawa Barat yang dilaksanakan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII)
GAGAH BERANI : Para penari seni tari tradisional Catrik Palagan Kota Sukabumi sedang membawakan tarian pertempuran Wangsa Suta dengan Ki Demang dalam memperebutkan Nyi Pundak Arum pada acara Rengkak Tandang Tari Kreasi Jawa Barat yang dilaksanakan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII)

POJOKJABAR.id, SUKABUMI – Wangsa Suta dan Gunung Parang tidak bisa dipisahkan dari sejarah terbentuknya Kota Sukabumi, betapa tidak sosok yang mungkin asing bagi warga pribuminya (Sukabumi red) khususnya generasi muda ternyata memiliki kisah yang menarik untuk diketahui. Berawal dari sana akhirnya, sanggar seni tari tradisional Catrik Palagan Kota Sukabumi mencoba mengangkat kembali kisah perjalanannya agar lebih ‘Kasohor’ (terkenal red) dalam bentuk tarian.

Benar saja dengan membawakan tarian dengan konsep pertempuran Wangsa Suta dengan Ki Demang Kartala dalam mem-memperebutkan Nyi Pundak Arum ternyata membuahkan hasil yang memuaskan dengan berhasil menjuarai lomba festival Rengkak Tandang Tari Kreasi Jawa Barat dan DKI yang dilaksanakan di Anjungan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) belum lama ini.

Pupuhu Catrik Palagan Kota Sukabumi Ki Domon mengatakan, sanggar seni tari tradisional Catrik Palagan Kota Sukabumi berhasil mengalahkan beberapa perwakilan Kota dan Kabupaten yang ada di Jawa Barat serta perwakilan DKI dengan berhasil menjuarai pertama. Dengan kemenangan ini, secara langsung Catrik Palagan menjadi wakil Jawa Barat untuk ke Nasional.

“Alhamdulilah Catrik Palagan berhasil keluar sebagai juara pertama, itu tak lepas dari konsep tarian yang dibawakan, “jelas Ki Domon, Minggu (9/8/2015)


Menurutnya dengan konsep tari yang diangkat kali ini adalah tarian pertempuran Wangsa Suta dengan Ki Demang Kartala dalam memperebutkan Nyi Pundak Arum, kenapa konsep ini diambil untuk dijadikan tarian, menurutnya konsep tarian ini merupakan legenda cerita rakyat Kota Sukabumi dan itu sesuai arahan panita yang mengharuskan membawakan konsep dari daerah masing-masing.

“Wangsa Suta adalah cerita Legenda Rakyat Sukabumi, bahkan di Pendopo ada salah satu ruangan yang diberi nama Nyi Pundak Arum yang merupakan gadis idaman Wangsa Suta, “jelasnya.

Menurutnya Wangsa Suta dikabarkan adalah salah seorang yang membuka daerah Gunung Parang. Daerah tersebut dikenal dengan adanya pohon kiara kembar dan pohon paku berdahan lima yang condong ke arah selatan.

Waktu itu Wangsa Suta telah memulai babak baru hidupnya dengan melaksanakan amanah sang guru. Bahkan dalam cerita tersebut Wangsa Suta pernah berbisik lirih kepada Pundak Arum. Tunggulah aku di Gunung Parang, di bawah pohon paku berdahan lima dan condong ke selatan. Namun, Nyai Pundak Arum tak ada di sana. Wangsa Suta memang-gil manggil. Hanya angin yang berdesau menjawab. Wangsa Suta terduduk le-mas. Dia mengerti sesuatu telah terjadi.

Menurut cerita ahirnya Wangsa Suta menemui sang guru, namun apa yang didapat sang guru Resi Arif berkata, ‘Wangsa Suta, kamu tidak berjodoh di jaman ini, tapi mungkin di lain jaman. Tunggulah. Kelak bila Gunung Parang telah berkembang, maka akan lahir seorang wanita titisan Pundak Arum. Dia akan menjadi pem-bela kaum perempuan yang teraniaya. Bila wanita itu telah lahir, maka itulah jodohmu.

Berdasarkan cerita se-jak hari itu Wangsa Suta tidak pernah meninggalkan Gunung Parang. Dia setia menunggu titisan Pundak Arum. Sebagaimana visi Saradea, Gunung Parang memang terus berkembang dari masa ke masa.

“Cerita ini sungguh berguna untuk diketahui ma-syarakat luas ataupun ma-syarakat Sunda, “jelasnya

Lebih lanjut dirinya mengatakan, untuk saat ini 21 orang dari sanggar Catrik Palagan yang terdiri dari 7 Penari laki-laki, 11 penabuh dan serta tim yang jumlahnya sebanyak 21 orang sedang dilatih oleh guru besar tari Jawa Barat dari Disporabudpar Jawa Barat untuk memperbaiki tarian Wangsa Suta agar lebih baik lagi ketika mengikuti lomba dengan Skala Nasional.

“Sekarang kita lagi mempersiapkan lomba di kancah Nasional yang akan dilaksanakan di Jakarta, “tukasnya. (hnd/dep)