Gas Langka, Masyarakat Saling Tuding

TAK PAKAI BLOWER: Peternakan ayam milik Rizal, di Kampung Babakan asem Desa Sukamaju Kecamatan Cikakak, yang tak membutuhkan gas bersubsidi sebab kandangnya tidak menggunakan mesin penghangat atau blower. Mesin ini hanya digunakan peternak dengan jumlah ayam di atas 8 ribu ekor.
TAK PAKAI BLOWER: Peternakan ayam milik Rizal, di Kampung Babakan asem Desa Sukamaju Kecamatan Cikakak, yang tak membutuhkan gas bersubsidi sebab kandangnya tidak menggunakan mesin penghangat atau blower. Mesin ini hanya digunakan peternak dengan jumlah ayam di atas 8 ribu ekor.
TAK PAKAI BLOWER: Peternakan ayam milik Rizal, di Kampung Babakan asem Desa Sukamaju Kecamatan Cikakak, yang tak membutuhkan gas bersubsidi sebab kandangnya tidak menggunakan mesin penghangat atau blower. Mesin ini hanya digunakan peternak dengan jumlah ayam di atas 8 ribu ekor.

POJOKJABAR.id, PALABUHANRATU – Peteranak ayam di daerah Palabuhanratu tak ingin dijadikan kambing hitam penyebab kelangkaan gas bersubsidi 3 kilogram. Sebab, gas elpiji bersubsidi tersebut hanya dibutuhkan oleh peternak besar yang menggunakan mesin penghangat kandang atau blower. Namun untuk peternak kecil, blower tak dibutuhkan.

Salah seorang peternak ayam di Kampung Babakan asem Desa Sukamaju Kecamatan Cikakak, Rizal (29), mengatakan mesin blower digunakan untuk peternak besar yang jumlah ayamnya di atas 8 ribu ekor. Jika untuk peternak kecil sepertinya tak pakai karena jumlah ayam sedikit serta alat blower yang mahal harganya.

“Yang menggunakan mesin blower itu adalah peternak besar karena jumlah ayamnya di atas 8 ribu ekor. Kami sebagai peternak kecil tak ingin dituding menjadi penyebab langkanya gas bersubsidi 3 kilogram,” ungkap Rizal.

Ia mengakui di daerah Palabuhanratu memang ada peternak yang menggunakan blower, namun untuk penggunaan gas bersubsidi 3 kilogram oleh peternak besar ini tak diketahuinya. Menurut dia, pemerintah harus segera mengambil upaya terkait hal ini supaya tak terjadi saling tuding menuding.


“Daripada pengusaha, agen dan masyarakat nantinya konfl ik, pemerintah harus cepat turun tangan,” terangnya.

Sebelumnya, beberapa hari ini masyarakat mengeluhkan tersendatnya pasokan gas 3 kilogram di daerah Palabuhanratu. Sulitnya mendapatkan gas bersubsidi ukuran 3 kilogram di daerah Palabuhanratu tak hanya dirasakan oleh konsumen serta penjual di warung-warung kecil saja, kondisi ini kini merembet kepada agen gas di pasar.

Di samping itu, kondisi kelangkaan gas terjadi akibat tingginya permintaan, tidak hanya dari konsumen asal daerah Palabuhanratu saja, tetapi juga konsumen dari wilayah Banten seperti Cibareno dan Bayah.

Konsumen gas bersubsidi dari wilayah Banten berani membayar lebih mahal gas tersebut ketimbang pembeli dari daerah Palabuhanratu. Di samping itu, peternakan ayam banyak menggunakan gas 3 kilogram untuk alat penghangat yang dipasang di kandangnya. (cr3/d)