Warga Apresiasi Batukenit Dibongkar

Pembongkaran tempat keramat Batukenit
Pembongkaran tempat keramat Batukenit
Pembongkaran tempat keramat Batukenit

POJOKJABAR.id, SUKABUMI – Pasca jajaran Muspika Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi membongkar Batukenit, Sukawayana yang berada di kawasan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provinsi Jawa Barat mendapatkan respons baik dari kalangan ulama.

Sesepuh Cikakak, Kiyai Lili Syadli merasa senang dengan adanya pembongkaran tempat yang dijadikan masyarakat untuk ritual dan keluar dari norma-norma Islam hingga menduakan Allah SWT (musyrik).

“Saya tahu dulunya tempat tersebut tak ada makam ataupun hal yang dianggap sakti, itu kerjanya orang-orang yang kurang kerjaan saja,” ujarnya.

Selain itu, ia juga mengenal sosok Bah Empar yang mengaku berumur lebih dari 270 tahun itu. Menurutnya, kakak Bah Empar saja masih berumur sekitar 90 tahun dan masih hidup. Kini kakaknya Bah Empar itu tinggal di dekat rumahnya di Kampung Ciputat, Desa/Kecamatan Cikakak.


“Jadi mana mungkin adiknya sudah berumur 270 tahun, itu kan aneh,” ujarnya.

Ia menyarankan kepada para pengunjung agar tidak lagi melakukan ritual di tempat tersebut dengan dalih berziarah. Lantaran, di tempat tersebut sama sekali tidak ada yang aneh malah tidak ada makam apapun.

“Memang sering banyak orang datang ke Batukenit dan Gunungtangkil untuk meminta yang aneh-aneh. Seperti naik jabatan, jadi kaya penglaris dan lain-lain. Padahal, tempat itu dibuat hanya akal-akalan saja untuk mendapatkan uang dengan menyebarkan infor-masi yang tidak benar dan menyesatkan,” bebernya.

Ia juga berharap, aparat dan semua lapisan masyarakat ikut memantau tempat tempat seperti itu, jangan sampai seperti beberapa tahun yang lalu telah setelah dibongkar malah dibangun kembali.

Kapolsek Cikakak, AKP I Jubaedi pun mengaku lega. Menurutnya, pembongkaran yang dilakukan bersama in-stansi lainnya kemarin meru-pakan bentuk kerja sama dan koordinasi yang baik antara warga dan aparat.

“Kemarin pembongkaran selain Batukenit juga kan makam di Gunungtangkil itu merupakan hasil koordinasi yang baik antar warga dan masyarakat,” akunya.

Selanjutnya, untuk menjaga hal-hal yang dimungkinkan akan kembali terulang, per-wira pangkat tiga balok emas di pundaknya itu berharap masyarakat agar segera mel-aporkan jika ada hal-hal yang janggal.

“Karena hal seperti ini merupakan persoalan sensitif yang harus dilakukan pengerjaan dan pengawasannya bersama-sama, apalagi mengambil tin-dakan,” pungkasnya. (cr3/t)