Ini Penyebab Gas Langka di Palabuhanratu

Pemilik tabung gas, Ade Mubarok saat menjelaskan kronologi pencurian.
Pemilik tabung gas, Ade Mubarok saat menjelaskan kronologi pencurian.
Ilustrasi

POJOKJABAR.id, SUKABUMI – Sulitnya mendapatkan gas bersubsidi ukuran 3 kilogram di daerah Palabuhanratu tak hanya dirasakan oleh konsumen serta penjual di warung-warung kecil saja, kondisi ini kini merembet kepada agen gas di pasar.

“Untuk saat ini gas masih ada tapi persediaan cepat habis. Sehingga pembeli biasa atau penjual gas di warung kecil tak kebagian, dampak kelangkaan ini sangat terasa untuk daerah pedesaan. Sebagai agen kami pun meminta kembali pasokan kepada pangkalan, tapi karena butuh kerap ada oknum pangkalan gas yang mencari keuntungan dengan menaikkan harga,” ungkap salah seorang pemilik agen gas, Cecep (52), kepada Radar Sukabumi (Grup Pojoksatu.id,), Kamis (6/8/2015).

Di samping itu, kondisi kelangkaan gas terjadi akibat tingginya permintaan, tidak hanya dari konsumen asal daerah Palabuhanratu saja, tetapi juga konsumen dari wilayah Banten seperti Cibareno dan Bayah.

“Pembeli banyak yang dari luar Palabuhanratu sehingga barang kekurangan terus, hal ini lantas dimanfaatkan oknum dari pangkalan yang menaik-kan harga seenaknya. Untuk memenuhi kios saya lebih memilih gas dari pangkalan di Parungkuda dibanding pan-gkalan yang ada di Palabuhanratu,” terang Cecep.


Hal serupa diungkapkan, Efialdi (49), pemilik agen gas lainnya. Menurut dia, konsumen gas bersubsidi dari wilayah Banten berani membayar lebih mahal gas tersebut ketimbang pembeli dari daerah Palabuhanratu.

Di samping itu, peternakan ayam banyak menggunakan gas 3 kilogram untuk alat penghangat yang dipasang di kandangnya.

“Pemilik peternakan ayam ini per harinya bisa men-gambil sekitar 25-30 tabung sehingga pasokan cepat habis. Padahal seharusnya mereka menggunakan gas yang tidak disubsidi,” ujarnya.

Ia berharap, pemerintah mencari solusi terkait penyebab kelangkaan gas 3 kilogram ini, karena dengan keadaan ini bukan hanya pem-beli atau masyarakat saja yang merugi, agen pun demikian. Bahkan jika adanya kelangkaan dan harga yang tak stabil, agen kerap disalahkan oleh masyarakat.

“Kami selalu dikambing-hitamkan padahal kami pun mengambil untung sedikit, jadi saya kira pemerintah daerah yang bisa menyelesaikan hal ini,” ujarnya.

Sementara itu, pengelola usaha pangkalan gas di Pal-abuhanratu menampik jika kenaikan harga merupakan ulah oknum dari pangkalan. Sebab dari pangkalan, gas 3 kilogram masih dijual dengan harga Rp16 ribu.

“Kami masih menjual seperti harga biasanya yakni Rp16 ribu dan jika kenaikan harga di lapangan bukan dari pihak kami,” ungkap salah seorang pengelola pangkalan gas di Batusapi, Emo.

Mengenai kelangkaan, pangkalan pun mengalami hal yang sama seperti di warung dan agen. Untuk penyebabnya tak diketahui karena pangkalan menunggu kiriman dari pusat.

“Kita bisa liat di gudang ini gas pada kosong kecuali yang 12 kilogram. Saya hanya pengelola saat ini pimpinan tidak ada jika ingin lebih jelas ya silakan ke pangkalan besar kami di Sukabumi,” jelasnya. (cr3/d).