Ini Cara Korban Trafficking Pulang ke Indonesia

Ilustrasi

Ilustrasi

POJOKSATU.id, SUKABUMI – Kasus kejahatan perdagangan manusia (human trafficking) di Sukabumi tak pernah ada habisnya. Selain berdampak luar biasa, di antaranya menyebabkan ketahanan keluarga menjadi berantakan. Kasus yang menyeret kaum hawa ini terus meningkat dan bervariatif.

Salah satunya adalah Nevi (23) yang menjadi korban human trafficking telah dipulangkan ke rumahnya di Kampung Pamoyanan Pentas Gang Jedah RT 03/05 Desa/Kecamatan Kebonpedes, Kabupaten Sukabumi, kemarin (5/5), setelah sembilan tahun dipekerjakan sebagai Penata Laksana Rumah Tangga (PLRT) di Johor Malaysia tanpa digaji.

Dengan menempuh jalur ilegal melewati hutan sehari semalam, warga Kebonpedes ini harus berenang untuk bisa sampai ke kapal yang akan membawanya ke Batam.

“Kapalnya berada cukup jauh dari pesisir pantai, jadi saya berenang. Setelah sampai, saya menelepon Pak Yusup dengan cara meminta bantuan kepada orang yang ada di Batam. Akhirnya, Pak Yusup menemui saya di Batam, lalu berangkat ke Jakarta bersama naik pesawat,” ulasnya.

Karena orang yang membantunya itu tidak bisa mengantar sampai rumah, korban diminta menghubungi keluarga agar dijemput ke bandara. “Kebetulan nomor rumah tetangga bernama Ibu Ai masih disimpan, saya memintanya untuk menyampaikan pesan kepada orang tua untuk menjemput di bandara. Saya pulang bersama keluarga sampai ke rumah, dengan bantuan Pak Yusup dengan diberi uang sebesar Rp 1 juta rupiah untuk biaya transportasi,” jelasnya.

Sementara orang tua korban, Wakiah (47) menyampaikan ucapan terima kasih kepada orang yang telah menolong anak perempuannya hingga bisa pulang. “Sampai kapanpun tidak akan melupakan kebaikan Pak Yusup, sangat bahagia bisa bertemu lagi dengan anak,” tutur Wakiah.

Sementara itu, Ketua Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Jawa Barat (Jabar), Jejen Nurjanah mengatakan, Nevi merupakan korban trafficking murni.
“Korban bekerja tanpa Perjanjian Kerja (PK), dan tanpa kelengkapan dokumen, seperti paspor dan asuransi,” jelas Jejen.

Setelah tiga tahun bekerja, majikan korban baru membuatkan paspor di Johor Malaysia. “Secara tidak sadar korban disekap dan terpaksa mengikuti apa kata majikan, agar tidak terjadi sesuatu pada dirinya,” imbuhnya. (cr5/wdy/dep)

Feeds