FUI Desak Tuntaskan Kasus Kuota Haji dan Miras, Jurnalis Dilarang Masuk Kejari

Ilustrasi demonstrasi.
Ilustrasi demonstrasi.
Ilustrasi demonstrasi.

POJOKSATU.id, SUKABUMI – Lagi-lagi perlakuan tidak menyenangkan aparat Kejaksaan Negeri (Kejari) Cibadak kepada jurnalis terjadi. Saat melakukan peliputan aksi ratusan demonstran dari ormas Islam yang tergabung dalam Forum Umat Islam (FUI) Sukabumi Raya, kemarin (29/4). Pagar gedung Korps Adhyaksa di Jalan Karangtengah, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi itu tertutup rapat bagi pemburu berita. Parahnya, tak ada alasan jelas terkait peristiwa ini.

Pengamatan di lapangan, aksi penutupan di tengah teriknya matahari tersebut dilakukan sejumlah petugas keamanan kejaksaan atas perintah Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Cibadak. Akibatnya, para jurnalis hanya bisa menatap kokohnya gedung dari luar pagar.

Ketua Sukabumi Jurnalis Forum (SJF), Fitriansyah Nachrawi mengatakan, seharusnya pihak kejaksaan tidak memperlakukan awak media sejauh ini. Terlebih lagi, selaku pilar keempat dalam pembangunan negeri ini, wartawan punya hak dan kewajiban yang telah diatur dalam undang-undang.

“Kami sangat menyayangkan sikap pihak Kejari Cibadak ini. Bukan hanya mereka, tapi kami juga bekerja atas dasar Undang-undang (UU). Seharusnya, penegak hukum ini lebih memahami UU tentang Pers,” kecam Ketua Sukabumi Jurnalis Forum (SJF), Fitriansyah Nachrowi kepada Radar Sukabumi (Grup Pojoksatu.id), kemarin.


Menurut Fitik, sapaan akrab Fitriansyah, perlakuan yang diterapkan Kejari Cibadak sangatlah berlebihan.

“Jika hal ini dilatarbelakangi aksi para awak media minggu lalu, seharusnya diselesaikan dengan duduk bersama dan sama-sama mencari solusinya. Bukan malah melokalisir masalah dengan adanya isu perseteruan antara pejabat kejaksaan,” ungkapnya.

Dalam konteks ini lanjut dia, masalah yang sebenarnya ada pada mekanisme pemberian informasi dari pihak kejaksaan kepada awak media yang terhambat. Hal itu menurutnya terjadi setelah sistem satu pintu yang diterapkan oleh pimpinan baru sekarang ini.

“Jokowi aja yang jabatannya presiden bisa langsung diwawancara wartawan, tapi seorang Kajari Cibadak yang skupnya lokal malah membuka kran informasi bukan kejarinya langsung tapi malah melalui kasi intel. Jadi wajar saja kalau banyak yang demo, karena informasi penanganan kasus yang menyedot perhatian publik tidak tersampaikan dengan jelas,” tandasnya.

Sementara itu, saat wartawan koran ini mencoba mencari alasan atas tidak bisa masuknya para awak media, salah satu penjaga keamanan mengaku tidak tahu pasti alasan tersebut. Menurutnya, dia hanya menjalankan perintah dari atasan.
“Sudah perintah dari pimpinan, jadi maaf ya,” singkat pria yang namanya enggan disebutkan.

Sementara itu, ratusan massa dari ormas Islam yang tergabung dalam FUI Sukabumi Raya menggelar aksi damai ke gedung Kejaksaan Negeri (Kejari) Cibadak, sekitar pukul 11.00 WIB, kemarin (29/4). Mereka menuntut pihak kejari profesional dalam menegakkan hukum di Sukabumi salah satunya kasus jual beli kuota haji.

“Pokoknya semua kasus harus ditangani dengan profesional. Salah satunya kuota haji,” beber Presedium FUI Pusat, Ece Suhendar Alghifari.

Tak hanya itu, Ece juga menyoroti persoalan minuman keras (miras) dan minuman beralkohol (mihol).

“Yang harus diperhatikan juga oleh penegak hukum baik kepolisian maupun pihak kejaksaan ialah persoalan miras dan mihol. Sebab, hingga saat ini peredaran minuman haram tersebut masih banyak. Kami berharap penegak hukum bertindak tegas menyikapi persoalan ini,” geramnya seraya menyebut telah menyampaikan tuntutan secara tertulis kepada pihak kejaksaan dan langsung diterima Kasipidsus Kejari Cibadak, Akhmad Erdiansyah Putera Hasibuan.

“Kami sudah sampaikan secara tertulis kepada pihak kejaksaan. Insya Allah mereka merespon dengan baik,” tandasnya.

Dengan pengawalan ketat pihak kepolisian, massa langsung diarahkan ke lapang sepak bola Siliwangi depan Kejari Cibadak. Di sini para demonstran menyerukan orasinya. Setelah menggelar orasi, perwakilan dari mereka langsung memasuki gedung kejaksaan untuk menyampaikan tuntutannya.

Presedium FUI Sukabumi Raya, Herol Alhudri mengatakan, ratusan massa yang mendatangi area Kejari Cibadak merupakan massa yang hendak silaturahmi dengan aparat penegak hikum di Kejari Cibadak. Namun, dalam konteks silaturahmi ini, ada beberapa hal yang hendak disampaikan kepada para jaksa.

“Ada beberapa cara seseorang melakukan silaturahmi, dalam konteks ini kami memilih cara aksi damai ke gedung Kejari Cibadak seraya nantinya menyampaikan tuntutan kepada mereka,” ujar Herol kepada awak media di sela-sela aksi damai itu.

Hal yang paling utama dalam tuntutan para massa gabungan ormas Islam itu lanjut Herol, ialah para penyidik ataupun jaksa harus bersikap profesional dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Jangan sampai, pihak yang tidak bersalah dipaksakan menjadi bersalah. Hal itu tentunya sangatlah ironis jika terjadi di Kabupaten Sukabumi.

“Yang paling kami harapkan, para penegak hukum di Kejari Cibadak dan Sukabumi jangan sampai mengkriminalisasikan seseorang dalam satu kasus. Mereka harus benar-benar profesional,” singkatnya. (ren/dep)