Cabup dan Cawabup Tak Boleh Bergaya ‘Kodok’

calon pilkada kabupaten bandung calon walikota pilwalkot
Ilustrasi

calon kepala daerah pilkada

POJOKSATU.id, SUKABUMI — Menjelang Pemilihan Umum tahun 2015-2020 mendatang sejumlah tokoh dari kalangan partai politik maupun dari kalangan birokrat mulai bermunculan. Melihat fenomena tersebut membuat pengamat sekaligus pemerhati politik Rusli Siregar menilai bahwa sosok pemimpin khususnya Calon Bupati (Cabup) atau Calon Wakil Bupati (Cawabup) Kabupaten Sukabumi kedepan tak boleh menggunakan gaya ‘Kodok’ (Binatang air yang hidup didua alam red). Menurutnya jika gaya para Calbup itu diawali gaya kodok kemungkinan kedepanya banyak korban yang sakit hati.

“Tau Kodok kan, dia berenang menggunakan tangan dan kaki, sikut kanan sikut kiri, tendang sana tendang sini demi mengedepankan kepalanya lebih maju, “ujar Rusli Kepada Radar Sukabumi (Grup Pojoksatu.id), kemarin (27/4).

Situasi perpolitikan di Kabupaten Sukabumi saat ini seperti wayang golek. Kita tau bahwa Arjuna tidak akan gagah, Cepot tidak akan lucu dan Semar tidak akan bijak tanpa ada yang memainkanya yakni seorang dalang.


“Masalahnya perjalanan politik saat ini judul dan cerita serta dalangnya tidak baik, isu-isu yang mucul berskala nasional berimbas ke daerah, “terangnya.

Lebih lanjut dirinya mengatakan, bahwa baik dan buruknya suasana perpolitikan di Nasional maupun di daerah 1,000 persen tergantung pada tangan ‘Dalang’. Untuk ingin tahu dalangnya siapa, maka carilah sendiri. Di negara ini tidak semua orang menginginkan negara ini mapan dan sejahtra, dimata mereka negara kita tak boleh sejahtera.

“Boleh lah didepan tertawa bersama, makan bersama, bahkan tidur bersama. Tapi ingat dibelakang mereka berbisik-bisik membicarakan kepentingan masing-masing,”terangnya.

Saat ini masih kata Rusli menerangkan, seharusnya mereka (para calon red) menanyakan dulu kepada dirinya masing-masing apakah mampu untuk jadi bupati Kabupaten Sukabumi kedepan atau tidak, jangan sampai tidak mampu dimampu-mapukan dengan berbagai cara menabrak kepentingan orang lain. Kalau tidak mampu menjadi pemimpin jangan dipaksakan.

“Meski cukup Rp50 ribu untuk satu suara, tapi kalau memaksa yang terjadi kedepan kemungkinan akan menjadi malapetaka bagi masyarakat, “jelasnya.

Seharusnya para Calbup dan Cawalbup memiliki jiwa ‘Penyu’. Dibalik sikapnya yang pendiam, ternyata binatang yang juga lambang Kabupaten Sukabumi menghasilkan ratusan telur. Perkataan ini bukan semata-mata dilontarkan dirinya begitu saja, tetapi semua ini berawal dari rasa kecemasan dirinya dan pandangan kedepan Kabupaten Sukabumi akan lebih baik lagi atau sebaliknya. Pilihannya aja di masyarakat.

“Kesimpulanya, jangan terlalu ambisi untuk maju menjadi pemimpim tanpa meliki kelebihan, kaji diri dulu baru tampil, “tukasnya.(hnd/dep)