Tambang Pasir Bikin Nelayan Merugi

Nelayan

POJOKSATU.id, SUKABUMI – Ribuan nelayan Pantai Selatan mengeluhkan minimnya pendapatan akhir-akhir ini. Bahkan, para nelayan itu menduga, adanya sejumlah pertambangan di kawasan pantai menjadi salah satu pemicu sulitnya ikan di wilayah laut dangkal bisa didapat.

Salah satunya, keluhan itu dilontarkan Nelayan Congkreng (kincang) Dindin Nurdin (43). Menurutnya, waktu lima tahun ke belakang, biasanya dirinya tidak pernah kekurangan pendapatan. Setiap musim berganti, paling tidak musim paceklik tidak pernah melebihi tiga bulan.

“Musim ikan itu kan bergiliran. Kadang musim layur, kadang musim tongkol atau musim ikan yang lain. Nah saat musim layur saya bersama nelayan lain selalu mendapatkan hasil melimpah. Tetapi akhir-akhir ini layur sangat sulit didapatkan,” kata Didin kepada Radar Sukabumi (Grup Pojoksatu.id) di sela-sela membenahi alat tangkapnya, kemarin (24/4).


Ia juga menceritakan, saat musim layur beberapa tahun lalu, dirinya bisa membangun rumah, padahal tak jarang masyarakat yang berprofesi selain nelayan menjerit akibat kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Saat itu, dirinya tidak mempersoalkan kenaikan harga BBM, lantaran, penghasilan ikan pun masih melimpah dan harganya sesuai.

“Waktu itu BBM harganya naik menjadi Rp 4.500 per liter. Sedangkan harga layur Rp 20 ribu per kilogram. Penghasilan saya saat itu, satu malam melaut berdua bersama saudara saya, bisa mencapai 80 kilogram bahkan melebihi 1 kuintal. Tetapi sekarang sangat sulit. Untuk mendapatkan 10 kilo saja susah, bahkan sering kosong,” bebernya.

Soal keberadaan perusahaan tambang pasir besi di wilayah Pantai Selatan, Ia menilai jelas sangat berdampak. Lantaran, keberadaan bahan bakar dan transportasinya juga mencemari laut dangkal.

“Buktinya kan jelas, kami sekarang sangat sulit mendapatkan ikan,” tandasnya.
Di tempat terpisah, Sekretaris Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Sukabumi, Ujang SB menjelaskan, menanggapi persoalan itu, hari ini (25/4), pihaknya akan melakukan audiensi dengan pihak pertambangan.

“Sabtu (25/4) kami akan menyampaikan aspirasi para nelayan untuk bertemu dengan pihak pertambangan pasir besi PT Sumber Suryadaya Prima (S2P) untuk mencarikan solusinya. Karena persoalan ini menjadi konflik antar nelayan dengan pihak S2P,” terang Ujang SB.

Ia juga menyebutkan, rencananya, audiensi masyarakat Tegalbuled akan dilaksanakan di Kantor Desa Buniasih, Kecamatan Tegalbuled.

“Nelayan menuntut kompensasi gangguan lingkungan atau komitmen amdalnya. Karena dengan keberadaan perusahaan itu harus membangun kearipan lokalnya,” tandasnya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, yang akan menghadiri pertemuan tersebut yakni warga Tegalbuleud, Minajaya dan Ujunggenteng.(ryl/dep)