Marak Prostitusi Terselubung, Kosan Buruh GSI Dirazia

Ilustrasi
Ilustrasi
Ilustrasi

POJOKSATU.id, SUKABUMI – Penghuni kosan di area Pabrik Gold Start Indonesia (GSI) Cikembar kaget bukan kepalang saat sejumlah petugas dari Desa Bojongraharja, BKKBN, Satpol PP Kecamatan Cikembar dan petugas Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Sukabumi mendatangi mereka dalam razia identitas kependudukan (operasi yustisi) sekitar pukul 20.00 WIB, kemarin (24/4).

Pantauan Radar Sukabumi (Grup Pojoksatu.id), saat petugas gabungan mengetuk setiap pintu kosan, para penghuni yang didominasi kaum hawa itu tengah terlelap tidur. Dengan wajah yang masih kantuk, penghuni kosan membuka pintu dengan sedikit agak terlambat. Mereka langsung diminta menunjukkan Kartu Tanda Penduduk (KTP), surat nikah dan Kartu Keluarga (KK).

Kades Bojongraharja, Sudarmat mengatakan, giat yang dilakukan itu merupakan upaya penekanan angka prostitusi terselubung dan tindak kejahatan di area kosan sekitar industri. Pasalnya, berkaca kepada daerah lain, saat ini banyak kejadian prostitusi dan teror yang terjadi di area kosan.

“Malam ini kita sengaja inisiatif melakukan razia identitas kependudukan ke sejumlah kamar kosan di areal Pabrik GSI Cikembar. Selain banyaknya laporan masyarakat terkait aktivitas prostitusi terselubung, kami juga ingin mengetahui jumlah sebenarnya warga pendatang di wilayah kami,” ujar Sudarmat di sela-sela razia.


Diakui Sudarmat, dirinya sampai saat ini kerap menerima laporan terkait aktivitas yang menjurus pada praktik prostitusi. Namun secara langsung dirinya belum menemukan bukti yang memperkuat informasi yang diterimanya itu.

“Laporan ada, cuma kami sulit untuk melakukan pembuktian, makanya sementara ini kita melakukan pendataan terlebih dulu,” lanjutnya.

Berdasarkan catatannya, saat ini di wilayah kerjanya terdapat 19.000 buruh garment yang bekerja di PT GSI, 1.000 buruh di PT Baju Indah (BI) dan 500 buruh di pabrik lainnya. Sementara jumlah penduduk asli ada sebanyak 7.416 orang. Terkait dengan jumlah warga pendatang yang ngekos, Sudarmat menyebut ada 4.000 buruh yang tinggal di kos kosan milik warga di sekitar pabrik.

“Ada 2000 kosan tersebar di wilayah kami, satu kosan rata-rata dihuni oleh dua orang buruh garment yang mayoritasnya perempuan,” terangnya.

Dengan dilakukannya razia identitas kependudukan ini, Sudarmat berharap di wilayah yang dipimpinnya itu tidak ada lagi praktik prostitusi. Lebih jauhnya, tindakan teror yang kini marak terjadi, dapat ditekan atau tidak dapat masuk di Cikembar.

“Kami tentunya akan mengingatkan penghuni kos yang tak memiliki atau membawa KTP. Kalau ada yang mencurigakan, kita akan mendeteksinya secara dini,” tandasnya.

Sementara itu, salah satu penghuni kos, IN (23) yang juga buruh garment mengaku kaget dengan adanya razia malam tersebut. Wanita berperawakan kecil ini mengaku asli Tasikmalaya dan sudah 1 tahun bekerja sebagai buruh di GSI.

“KTP ketinggalan, makanya tadi sempat lemas pas ada petugas minta nunjukin KTP. Sejauh ini proses administrasi sudah saya tempuh dengan melapor ke pak RT dan pak RW berharap dapat surat tinggal sementara tapi tidak dapat. Katanya sih belum ngeluarin,” singkatnya. (ren/dep)