Stop Tayangan Adegan Kekerasan

Ilustrasi

Ilustrasi

POJOKSATU.id, SUKABUMI – Maraknya kasus kekerasan pada anak setiap tahun di Sukabumi, kembali jadi sorotan. Ironisnya, kekerasan tersebut tidak hanya dilakukan orang dewasa, namun bisa juga dilakukan oleh anak seusianya. Seperti yang terjadi baru-baru ini di Sukabumi, seorang siswi Kelas II SDN 2 Cimanggu, Kecamatan Sukalarang, Kabupaten Sukabumi, Lindawati (8), tewas diduga akibat dianiaya oleh teman sebayanya.

Psikolog Anak Sukabumi, Joko Kristiyanto menilai, saat ini anak-anak sudah semakin familiar dengan dunia kekerasan. Hal itu diakibatkan banyaknya tayangan atau adegan kekerasan, baik di media televisi ataupun gedget tanpa sensor baik itu sifatnya komedi atapun film action. Oleh karenanya, masih kata Joko, tayangan kekerasan di televisi amat sangat berpengaruh bagi anak-anak terutama di usia sepuluh tahun ke bawah.

“Anak di bawah usia sepuluh tahun itu sangat rawan, karena biasanya pada usia seperti ini mereka menirukan apa yang mereka lihat dan dengar tanpa mereka pahami dan disadari. Maka dari itu selain TV, lingkungan dan bentuk perlakuan orang tua juga harus berhati-hati. Jangan sampai tingkah negatif ditirukan oleh anak-anak,” tegas pria yang juga Sekretaris Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Sukabumi kepada Radar Sukabumi (Grup Pojoksatu.id), kemarin (22/4).

Dirinya mengklaim, tindak kekerasan terhadap anak di Kota Sukabumi cukup tinggi setiap tahunnya. Buktinya, berdasarkan catatan P2TP2A Kota Sukabumi, pada triwulan pertama 2015 tindak kekerasan terhadap anak meningkat dua kali lipat dari triwulan pertama di 2014.

Pada 2014 ada sekitar 256 kasus kekerasan terhadap anak, di mana pada triwulan pertama yakni Januari – Maret, P2TP2A menemukan 184 kasus, dan di triwulan kedua sebanyak 72 kasus.

“Kasusnya bervariatif mulai dari kasus fisik, psikis, seksual, trafificking, penelantaran, namun di tahun kemarin kasus terbesar ada di penyimpangan seksual yaitu kasus Emon,” ujarnya.

Sementara itu, 2015 ini P2TP2A mencatat mulai Januari hingga Maret akhir ditemukan 43 kasus kekerasan, 33 di antaranya menimpa anak-anak di bawah umur 18 tahun. Adapun kekerasan yang dialami adalak Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sebanyak tiga kasus (satu laki-laki dan dua perempuan), satu kasus trafficking (perempuan), sepuluh kasus penyimpangan seksual (empat laki-laki dan enam perempuan), tiga kasus penelantaran (satu laki-laki dan dua perempuan), dan kasus anak terdapat sebelas kasus.

“Kasus anak di sini maksudnya seperti tawuran, kasus penyimpangan seksual dan kenakala remaja lainnya, terangya.

Ia menambahkan, kasus kejahatan terhadap anak biasanya dilakukan oleh orang terdekat, bahkan tidak sedikit orang tua yang melampiaskan kemarahannya kepada anak-anak. Joko menilai penanganan masalah kenakalan anak ini bisa ditangani dengan tepat asal orang tua bisa lebih paham cara memperlakukan anak dan lebih peduli terhadap anak-anaknya.

“Penanganannya cukup mudah, yaitu berikan kasih sayang kepada anak dengan kasih sayang yang sebenarnya. Orang tua harus memberikan lebih banyak waktu untuk anak-anaknya,” jelasnya singkat.

Kurangnya perhatian dari orang tua serta keluarga yang broken home biasanya bisa menciptakan kenakalan terhadap anak. Bahkan faktor ekonomi dan lingkungan serta moral agama yang kian memudar biasanya menjadi faktor utama seorang anak bisa berperilaku menyimpang atau kenakalan pada anak.

Tidak hanya itu, ia pun berharap jika pemiliki televisi untuk mulai tidak menayangkan adegan kekerasan yang bisa mempengaruhi pola pikir anak. (wdy/dep)

Feeds