Gara-gara Rp 1500, Bocah Tewas

Ilustrasi
Ilustrasi
Ilustrasi

POJOKSATU.id, SUKABUMI – Sungguh tragis nasib Lindawati (8). Gara-gara tidak memberi uang Rp1.500 kepada yang memalaknya, siswi Kelas II SD Negeri (SDN) 2 Cimanggu, Desa Cimangkok, Kecamatan Sukalarang, Kabupaten Sukabumi ini tewas.

Berdasarkan penuturan ibu korban, Habibah (38). Tewasnya putrinya tersebut diduga dianiaya tiga bocah laki-laki yang masih berusia 8-10 tahun. Menurutnya, dua di anta-ranya merupakan teman sekolah korban yang berisial ZK (8) dan RD (10). Sebelum tewas, korban sempat mendapat perawatan medis di RSUD R Syamsudin SH Kota Sukabumi selama 19 hari.

“Peristiwa ini terjadi bulan lalu, Sabtu (14/3) siang,” kata Habibah kepada Radar Sukabumi (Grup Pojoksatu.id) saat ditemui di Mapolres Suka-bumi Kota, kemarin (20/4).

Menurutnya, saat itu korban disuruh kakaknya belanja ke warung bersama keponakannya Heira (5). Ketika hendak pulang ke rumah, korban dicegat oleh ZK, RD dan satu orang temannya yang belum diketahui identitasnya itu. Mereka langsung meminta uang yang ada di tangan korban sebesar Rp 1500.


“Korban yang menolak memberi uang, diduga langsung dianiaya ketiga pelaku dengan cara dicekik, dipukul dan ditendang,” ungkapnya.

Anaknya itu, masih kata Habibah, tidak berdaya melawan lantaran tangannya dipegang salah satu pelaku, sementara pelaku lain bebas menganiaya korban. “Jadi kalau kata cucu saya anak saya dicekik dan dipukul ke arah dada oleh RD, sedangkan ZK melintir tangan anak saya ke belakang, makanya waktu saya periksa tangan kiri anak saya sempat biru dan bengkak, serta lehernya biru dan ada sedikit telapak tangan bekas dicekik,” terangnya.

Putri ke empat dari lima bersaudara ini dikenal orang tuanya sebagai sosok yang santun dan periang. Namun, sejak sebulan terakhir sebelum kejadian, korban mendadak menjadi sosok pendiam dan sering melamun. Hingga saat kejadian pun korban tidak mengadukan ke keluarganya, dan hanya mengeluh sakit di bagian leher dan juga bahu kiri korban. Bahkan setibanya di rumah, badan korban langsung gemetar dan muntah-muntah, korban sempat ditanya oleh ayahnya namun korban tidak menjawab.

“Pulang dari warung itu jalannya sempoyongan dan tiba-tiba jatuh. Saya kaget terus saya nanya, tapi anak ini enggak mau cerita, saya baru tahu kalau dia dianiaya sama kedua anak itu dari cucu saya yang ikut ke warung,” bebernya.

Habibah menduga, jika peristiwa tersebut tidak hanya dilakukan sekali, melainkan berulang-ulang. Itu terlihat dari gelagat korban yang tadinya ceria, kini selalu murung serta uang jajan yang diberikannya untuk ditabung ternyata tidak pernah masuk ke dalam buku tabungan korban.

“Setiap saya tanya uang tabungan ke mana, anak saya enggak penah cerita paling masuk kamar terus tidur, saya pikir uang itu untuk ia beli jajan, maklum namanya anak perempuan pasti pengen beli barang bersama teman-temannya,” ujarnya.

Seminggu setelah kejadian korban yang kondisinya semakin parah dan langsung dibawa ke Rumah Sakit Bunut untuk mendapat perawatan. Korban dirawat selama 19 hari. Baru pada, Rabu (8/4) sore sekitar pukul 16.00 WIB korban diizinkan pulang oleh dokter lantaran kondisinya yang sudah membaik. Namun sayang, empat jam setelah pulang dari rumah, korban kembali kejang dan muntah darah sehingga mengakibat-kan korban meninggal.

“Awalnya anak saya sehat, tapi pas turun dari mobil sempat kita melewati tempat anak saya dianiaya dari situ anak saya kembali kejang-kejang dan kondisinya drop sambil muntah darah baru sekitar pukul 19.00 WIB anak saya meninggal,” tuturnya.

Sementara itu, Kapolres Sukabumi Kota AKBP Diki Budiman membenarkan peristiwa tersebut. Bahkan, Diki mengatakan setelah kejadian, pada Kamis (9/4) diadakan musyawarah antar tokoh agama, masyarakat dan dari kepolisian Polsek Sukalarang terhadap pelaku untuk dis-elesaikan secara kekeluargaan dengan membayar ganti rugi sebesar Rp 30 juta.

“Pada hari pertama keluarga pelaku sudah memberikan uang sebesar Rp 2 juta, lalu keluarga pelaku pun harus membayar secara mencicil mulai dari tujuh hari korban hingga 100 harinya, namun di hari ketujuh keluarga pelaku tidak membayar dan tidak ada itikad baik sehingga dilapor-kannya lah kejadian tersebut ke Polres Sukabumi Kota,” ungkap Diki.

Lanjutnya ia menambhkan, kedua tersangka tersebut masih berstatus adik dan kakak tiri, keduanya juga merupakan tetangga dan teman korban. “Korban dan ZK ini masih satu kelas, sedangkan RD kakak tiri ZK masih duduk di bangku kelas IV di sekolah yang sama,” jelasnya.

Akibat perbuatannya tersebut kini kedua pelaku dijerat dengan pasal 76c jo pasal 80 Ayat 3 Undang-undang no 35 tahun 2014 tentang perlind-ungan anak dengan ancaman hukuman penjara paling lama 15 tahun atau denda paling banyak Rp 3 miliar. Namun karena pelaku masih di bawah umur, pihak kepolisian tidak melakukan penahanan hanya memberikan pengawasan dan bimbingan terhadap pelaku.

“Karena usianya masih di bawah 12 tahun jadi kita tidak melakukan penahan,” imbuhnya.

Kini perkara tersebut selanjutnya melakukan proses penyidikan, untuk mendapatkan kepastian hukum. Ditemui di tempat terpisah, dokter spesialis kejiwaan RSUD R Syamsudin SH Kota Sukabumi dr. Tomy men-gatakan, pihaknya tidak menemukan tanda-tanda adanya kekerasan di badan korban.

Namun saat dirawat di rumah sakit, korban mengalami demam tinggi hingga dirinya berkonsultasi dengan dokter anak untuk menangani pasien-nya tersebut. Hingga akhirnya panas demam korban menurun dan korban pun bisa kembali beraktivitas normal.

“Awal-awal itu, korban tidak bisa makan, bicara dan berja-lan, namun setelah melakukan perawatan korban ini bisa beraktivitas secara normal. Kalau dilihat dari fisik kita tidak menemukan bekas penganiayaan sehingga kita belum bisa menyimpulkan akibat kematian korban,” jelasnya.

Namun, dr. Tomy mengira jika korban ini mengalami depresi berat akibat peristiwa yang menimpanya beberapa waktu lalu. Hal ini terlihat dari korban yang sering kejang-kejang atau takut jika melihat anak laki-laki seusianya, bahkan, jika terdengar suara bising atau banyak orang korban sering merasa ketakutan dan kejang-kejang. (wdy/dep)