Penerima BPNT Satu Wilayah Menunya Sama, Seperti Pakaian Anak Sekolah Seragam. Dedi Mulyadi ; Agen Untung Besar, Petani Lokal Buntung Total

dedi mulyadi
Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Dedi Mulyadi, saat mengecek harga-harga bahan pokok dari masyarakat penerima BPNT, disalah satu warung sembako.

POJOKJABAR.com, PURWAKARTA – Program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) dari awal tahun ini, seyogyanya masyarakat penerima manfaat mendapatkan uang tunai. Namun, masih ada saja dibeberapa wilayah Desa atau Kecamatan masyarakatnya mendapatkan sembako.


Harga sembako yang diberikan diklaim sesuai dengan uang yang diterima masyarakat, yaitu 200 ribu rupiah/bulan. Sembako itu isinya seragam, dari mulai beras, telor,kentang dan buah-buahan. Paraktis masyarakat penerima BPNT diwilayah tersebut menunya seragam, seperti pakaian anak sekolah seragam atau sama semua.

Hal itu berbanding terbalik dengan kebijakan pemerintah, yang menginginkan agar masyarakat penerima manfaat mendapatkan uang tunai, kemudian dibelanjakan sesuai dengan kebutuhan pokoknya.

Saat masyarakat sudah musim panen padi, tentu kebutuhan akan beras di setiap masyarakat tidak terlalu dibutuhkan. Tapi, karena mereka mendapatkan jatah beras, mau tidak mau harus diterima walaupun beras dirumahnya berlimpah.


Sehingga wajar saja, ketika Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Dedi Mulyadi, turun ke lapangan dalam rangka reses, untuk melihat secara langsung perputaran ekonomi dari hasil-hasil pertanian para petani.

“Seharusnya dengan adanya e-warung yang mengelola dana BPNT, hasil-hasil pertanian dari petani sekitar ditampung di warung tersebut. Kemudian dibeli oleh masyarakat sekitar, oleh para penerima manfaat BPNT. Bila seperti itu, maka ekonomi masyarakat akan berputar dengan baik,” kata Dedi Mulyadi, melalui sambungan seluller.

Masih menurut Dedi Mulyadi, setelah dirinya turun kelapangan, berbicara langsung dengan masyarakat para penerima manfaat BPNT, masyarakat harus menerima sembako yang sudah dipersiapkan.

“Bila seperti itu, kasihan para petani. Hasil pertaniannya tidak terjual, padi mereka jadi pada numpuk. Kalaupun padi petani terpaksa dijual, maka harganya akan anjlok karena beras berlimpah,” tambah Dedi Mulyadi.

Sederhananya, tambah Dedi, bila petani punya padi tinggal dijual ke gilingan padi setempat dari penggilingan tinggal kerjasama sama e-warung. Maka harga padi akan tetap stabil, petani bisa menikmati hasil pertaniannya.

“Atau petani punya ayam, punya hasil pertanian sayuran jual ke e-warung, dibeli lagi oleh masyarakat penerima BPNT kan ekonomi akan terus berputar,” jelas Dedi Mulyadi.

Bila kondisinya seperti saat ini terus, bahan-bahan pokok di e-warung disuplai oleh para Suplayer, maka perekonomian para petani di daerah-daerah tidak akan berjalan. Saat musim panen, baik itu padi, sayuran, daging ayam akan tetap anjlok.

“Suplayer atau agen penyalur sembako BPNT untung besar, petani lokal buntung total,” tegas Dedi Mulyadi, mengakhiri pembicaraan. (Red/pojokjabar)