KLHK Salahkan Hujan, Dedi Mulyadi Tanggapi Dingin karena Faktor Utama Banjir Rusaknya Alam dan Lingkungan

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Dedi Mulyadi, saat memainkan tokoh wayang golek semar di galeri kediamannya. (Foto Dok)

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Dedi Mulyadi, saat memainkan tokoh wayang golek semar di galeri kediamannya. (Foto Dok)


POJOKJABAR.com, PURWAKARTA – Pernyataan dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) belakangan ini menjadi sorotan berbagai pihak, pernyataan yang dimaksud salah satu faktor terjadinya banjir di sejumlah wilayah karena anomali cuaca berupa curah hujan yang tinggi sehingga volume airnya meningkat.

Pernyataan dari KLHK tersebut ditanggapi dingin oleh Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Dedi Mulyadi, yang salah satu tugas dan fungsinya yaitu untuk melakukan pengawasan terhadap lingkungan hidup. Legislator dari fraksi golkar itu tetap pada prinsipnya, faktor utama penyebab terjadinya banjir yaitu rusaknya alam lingkungan sekitar.

“Saya yakin faktor utamanya karena kerusakan alam dan lingkungan yang sudah parah, gundulnya hutan, terjadinya sendimentasi sungai, perubahan hutan jadi lahan pertambangan dan perkebunan dengan jumlah yang sangat luas. Itu bisa menjadi faktor utama dari terjadinya banjir, bukan hanya anomali cuaca yang sebagaimana disampaikan oleh KLHK,” kata Dedi Mulyadi, dengan nada sedikit meninggi karena kesal bila terjadinya banjir hujan yang disalahkan.

Yang jadi masalah, daya tampung alam untuk air hujan tidak memadai sehingga terjadi banjir dan rakyat yang menjadi korban.

Karena alamnya berubah, yang tadinya cekungan hutan disulap jadi perkebunan, hutan berbukitnya dikeruk karena mengandung tambang, hutannya digunduli, sungai tempat mengalirnya air terjadi pendangkalan, kemudian masalah tata ruang untuk pemukiman juga perlu diperhatikan.

“Itu seabreg faktor penyebab banjir. Jadi, tugasnya KLHK itu untuk membenahi alam lingkungan yang rusak bukan malah menyalahkan hujan,” kata Dedi Mulyadi, sambil sesekali memainkan tokoh wayang golek yang di pegangnya.

Menurut Dedi, rusaknya alam lingkungan di kalimantan bukan hanya kesalahan menteri saat ini. Karena kejadian rusaknya alam itu sudah berpriode-priode lamanya, sejak kepemimpinan presiden soeharto hingga saat ini.

Masih menurut Dedi, daripada membuat argumen demi untuk menutupi kerusakan lingkungan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan lebih baik segera melakukan kordinasi langkah penegakan hukum dan rencana memperbaiki lingkungan secara masif dan terstruktur.

Penegakan hukum lingkungan seperti menindak pelanggar penambangan, kehutanan, perkebunan serta segera membawanya ke ranah proses hukum dan administratif. Jika masuk pidana lingkungan, para pelanggar segera diproses hukum. jika masuk perdata, pelanggarnya segera dikenai denda.

“Tinggal ambil langkah tegas. Harusnya segera buat rapat darurat untuk mengatasi itu, tindak tegas para perusak lingkungan. Berikan efek jera, agar tidak ada perusak-perusak lingkungan dikemudian hari. Bukan hanya berargumentasi, menyalahkan faktor anomali cuaca,” tegas Dedi Mulyadi, mengakhiri pembicaraan sambil sesekali berjalan mengambil tokoh wayang golek dan memainkannya. (Adw/pojokjabar)

Daftar untuk Tonton Launching Motor Honda New PCX Klik Disini
Loading...

loading...

Feeds