Cerita Janda Muda Berprofesi Tukang Pijat, Belum Pernah Liat yang ‘Anu’ Nya Bercabang

Ilustrasi

Ilustrasi


POJOKJABAR.com, PURWAKARTA – Dimasa sulit perekonomian seperti ditengah pandemi covid19 ini, profesi apapun dijalani demi untuk bertahan hidup mencari sesuap nasi penghilang dahaga dan lapar.

Tujuannya hanya satu, agar keluarga terutama anak bisa tercukupi pangan atau kebutuhan makan. Bila ada kelebihan dari sisa buat makan baru untuk keperluan lainnya yaitu kebutuhan sandang .

Itulah yang dilakukan seorang janda muda beranak dua, sebut saja namanya Dahlia (34) yang harus banting tulang demi mencukupi kehidupan anak-anaknya yang beranjak remaja menjadi seorang terapis panggilan.

“Mau gimana lagi, kehidupan saat ini sudah terlalu sulit walaupun haanya sekedar untuk makan,” cerita Dahlia, saat bercerita tentang susahnya hidup ditengah pandemi corona.

Dirinya terpaksa menjadi seorang tukang pijit demi untuk kebutuhan kedua buah hatinya. Walaupun pekerjaannya sangat beresiko, terutama saat berhadapan dengan para hidung belang.

“Pendapatannya tidak pasti, kadang sehari ada dua orang yang ingin pijit bahkan juga tidak ada satu orangpun yang ingin dipijat,” kata Dahlia, sambil menerawang pendapatannya yang tidak stabil.

Untuk satu kali pijat Dahlia mematok harga 200 ribu rupiah, seluruh badan di pijat dari mulai ujung kaki hingga ke ujung kepala kepada para lelaki yang memesan jasa pijatnya.

“Bukan pijat plus-plus ya, pijat murni seluruh badan,” tambah Dahlia, memastikan kalau Dahlia bukan wanita yang berprofesi ganda baik sebagai pemijat maupun wanita plus-plus.

Namun tidak sedikit pula para lelaki hidung belang yang menggodanya saat melakukan pemijatan, namun Dahlia memastikan bila pria itu mulai kurang ajar langsung akan marah dan melawannya.

“Sering dapat perlakuan kurang enak, saat melakukan pijat tamunya meminta saya buka baju. Tentu saja hal itu saya tolak mentah-mentah, bahkan tidak segan-segan saya melawan kalau saya anggap sudah keterlaluan. Tapi yang baik juga banyak, engga pernah macam-macam,” beber Dahlia, menjelaskan tentang para tamu yang sering melakukan berbuat kurang ajar dan ada juga yang baik.

Adapun untuk pijatnya sendiri, Dahlia mengakui para tamunya membuka seluruh pakaiannya tidak ada sehelai benangpun yang melekat. Kemudian di tutup oleh handuk khusus untuk bagian alat vitalnya.

“Tetep aja, walaupun di tutupin kelihatan anu nya. Beda-beda sih, bermacam-macam ukurannya. Belum pernah liat yang aneh, apalagi bercabang,” ujar Dahlia, sambil tertawa dengan renyah sambil membayangkan anu nya para tamu yang pernah dilihatnya.

Impian Dahlia cukup sederhana, ketika dirinya sudah mantap mendapatkan pendamping hidupnya tentu tidak akan cape-cape lagi menjadi terapis ataupun tukan pijit panggilan.

“Kalau sudah ada yang bertanggungjawab (suami) pastinya hanya mijit suami saja,” jelas Dahlia, yang tidak ingin selamanya menjadi tukang pijat.

Menurut cerita Dahlia, kebanyakan para tamu diakhir selalu ditawari ‘Hand Job’ (HaJe) dan mereka tidak menolak untuk melakukan hal tersebut. Namun ada juga tamu yang tidak melakukan hal itu.

“Diakhir pekerjaan melakukan urut alat vitalnya, jadi pasti tau ukuran kepunyaan para lelaki yang di pijat,” ucap Dahlia menjelaskan, sambil senyum dikulum dan terlihat wajahnya merona merah karena menahan malu.

Namun ada satu kejadian yang masih diingat oleh Dahlia, saat si pria yang meminta jasa urutnya tiba-tiba menjadi buas dan meminta untuk dilayani berhubungan badan. Hal itu membuat Dahlia berontak dan marah.

“Walaupun kalah tenaga, tapi berusaha sekuat tenaga untuk memberontak. Saya pukul aja anu nya, baru dianya berhenti karena kesakitan. Kemudian saya kabur engga peduli lagi walaupun belum dibayar,”tawa Dahlia, mengenang kejadian yang hampir di perkosa tamunya. (Adw/pojokjabar)

Daftar untuk Tonton Launching Motor Honda New PCX Klik Disini
Loading...

loading...

Feeds