Gegara Covid19, Sanksi Sosial Dikucilkan, Makam Dibongkar Lagi Hingga Masyarakat Tidak Percaya Lagi Corona

Ilustrasi Corona

Ilustrasi Corona


POJOKJABAR.com, PURWAKARTA – Suara sirene mobil ambulan mengejutkan para warga di wilayah Sindangsari khususnya Desa Kertasari Cileunca Kecamatan Bojong, selain terkejut warga juga dibuat panik dan kaget karena ambulan yang datang membawa jenazah di kawal TNI dan Polri. Keluarga pasien disamping masih berduka juga bertambah shok, karena selain TNI dan Polri zenajah juga di kawal satgas covid19.

Suasana kedatangan zenajah cukup mencekam, tidak ada warga yang berani mendekat ke rumah keluarga pasien meninggal karena takut terpapar covid19. Selain tengah berkabung, sanki sosial yang beratpun dirasakan oleh keluarga yang ditinggalkan, praktis mereka merasa di kucilkan oleh masyarakat setempat.

Kesedihan masih berlanjut dialami oleh keluarga pasien, karena jenazah korban belum ada yang berani menguburkan masyarakat menjauh karena takut terpapar covid19 atau virus corona. Hal itu tentu menambah kedukaan yang dalam bagi keluarga almarhummah.

Namun pertolongan itu datang dari para anak muda, dengan tanpa pamrih mereka tanpa rasa takut mereka berusaha untuk tegar menolong keluarga almarhumah yang sedang kesusahan karena tidak ada yang berani menguburkan jenazah yang sudah tertahan hampir 6 jam karena tidak ada yang berani menguburkan.

Organisasi dari Pemuda Pancasila tampil digarda terdepan, dengan peralatan seadanya mereka berusaha menggali kuburan, kemudian menguburkan almarhumah yang katanya terpapar covid19. Demikian hal itu diceritakan Sekretaris MPC Pemuda Pancasila Kabupaten Purwakarta, Asep Kurniawan kepada pojokjabar.com di sekretariatnya.

“Almarhummah bernama Ideh Saadah meninggal beserta bayi dalam kandungannya pada kamis sore di rumah sakit. Kemudian jenazah alamarhumah diantarkan menggunakan ambulan, di kawal TNI dan Polri berikut dengan satgas covid19. Jenazah almarhumah sudah berada di dalam peti, sesuai dengan protokol kesehatan covid19,” kata Asep Kurniawan, sambil membayangkan kembali proses pemakaman almarhum.

Almarhum, lanjut Asep, masuk rumah sakit tanggal 26 November minggu yang lalu. Sehari kemudian tepatnya tanggal 27 November almarhum meninggal dunia. Bayi yang berada di dalam kandungan berusia sekitar 8 bulan juga turut meninggal didalam kandungan almarhum.

“Waktu itu kita keluarga (almarhumah masih kerabat Asep Kurniiawan) sempat bingung, kalau memang dinyatakan covid19 kenapa tidak ada petugas dari satgas corona yang datang kemudian menguburkan almarhumah dengan peralatan APD. Seolah almarhumah hanya diantarkan, kemudian di kawal TNI-Polri dan satgas covid19 lalu dibiarkan begitu saja tanpa dimakamkan,” geram Asep, sangat kesal dengan penanganan masalah kematian almarhumah yang di covidkan.

Kenapa saya bilang di covidkan, kata Asep melanjutkan pembicaraan, karena hasil dari swab alamarhumah belum keluar positif atau negatif covid19. Jenazah sudah diperlakukan layaknya pasien yang terpapar covid19 dari mulai jenazah sudah ada didalam peti mati, dikawal TNI – Polri dan juga stagas covid19.

“Kemudian kami bersama anggota pemuda pancasila mengambil inisiatif untuk memakamkan almaehum, karena jenazah datang pukul 21.00 WIB hingga tengah malam tidak ada satupun petugas satgas covid19 yang menguburkan. Jenazah akhirnya berhasil di makamkan pada pukul 03.00 dini hari menjelang subuh, oleh para anggota Pemuda Pancasila,” beber Asep, membeberkan proses pemakaman.

Isu tidak sedap mulai terdengar semakin nyaring di masyarakat, bahwa kami yang mendapatkan keuntungan dari mengurus jenazah almarhum. Karena masyarakat beranggapan bahwa korban yang terkena covid19 mendapatkan anggaran dari pemerintah, baik itu untuk pemakaman hingga santunan buat keluarga almarhum.

“Kami sempat emosi, berbekal niat yang tulus dan ikhlas membantu menguburkan karena sudah kewajiban kami sebagai manusia yang hidup untuk menguburkan almarhum secara layak. Tapi entah siapa yang menghembuskan isu tak sedap tersebut, hingga membuat kami disudutkan dengan berbagai bisik-bisik yang menyakitkan,” kata Asep, sambil menahan amarah atas desas desus yang beredar dimasyarakat.

Tidak berhenti sampai disitu, para tokoh agama yang mendengar hal itu kemudian merasa prihatin atas pemakaman almarhumah yang seadanya. Mereka akhirnya berinisiatif membongkar kembali makam alamarhum, dengan memberikan keyakinan bahwa penyakit apapun yang ada di mahluk hidup ketika inangnya mati, maka penyakit itupun akan terbawa mati.

“Kemudian makam almarhummah dibongkar kembali, jasadnya dimandikan, dikapani, kemudian didholatkan dan makamkan kembali sebagaimana layaknya yang beragama muslim,” tambah Asep.

Persoalan kemudian muncul kembali, setelah hari ini saya mendapatkan surat hasil sweb almarhumah. Karena dari hasil swab almarhumah dinyatakan negatif covid19.

“Kami merasa senang mendengarnya, karena para anggota Pemuda Pancasila yang terlibat dalam pemakaman almarhummah tidak perlu cemas nyatanya negatif corona. Masalah kemudian timbul semakin kencang, saat ini kami diterpa isu yang semakin tidak enak. Entah siapa yang menghembuskannya, seolah-olah kami yang mendapatkan keuntungan dari itu semua,” beber Asep, diamini oleh beberapa pengurus PP Kabupaten yang hadir.

Atas hal itu, dalam waktu dekat MPC PP akan melakukan class action ke rumah sakit dimana alamarhum di rawat untuk meminta klarifikasi resmi mengapa jenazah alamarhum diantarkan menggunakan standar covid19, pakai pengawalan TNI – Polri dan satgas covid19 padahal almarhumah belum terbukti covid19.

“Kita akan datangi rumah sakit tersebut dalam waktu dekat, karena telah membuat kegaduhan di masyarakat. Untuk memberikan keterangan kepada kami, terutama kepada pihak keeluarga. Kemudian juga kepada satgas covid19,” tambah Asep.

Atas kejadian tersebut, kini banyak masyarakat tidak percaya lagi terhadap apa yang namanya covid19 yang selalu dihembuskan. Mungkin karena masyarakat sudah bosan dengan isu-isu covid19, karena pemerintah terlalu lama menangani covid19 yang tak kunjung-kunjung ada akhirnya. (Adw/pojokjabar)

Daftar untuk Tonton Launching Motor Honda New PCX Klik Disini
Loading...

loading...

Feeds