Catatan Kelam Wanita Panggilan, Lebih Enak Sama yang Sudah Beristri

Bunga layu (foto net)

Bunga layu (foto net)


POJOKJABAR.com, PURWAKARTA – Catatan kelam masa lalu pussy belum berakhir, saat dirinya terjebak kedalam masalah ekonomi yang mengharuskan terjun kedunia malam bukan tanpa resiko yang kecil. Karena keadaan yang mengharuskan bertahan hidup, sulit untuk mendapatkan pekerjaan yang layak terlebih lagi ijazah yang dimiliki hanya tamatan SD.

“Usia saya baru menginjak 17 tahun, saya sadari kerja di dunia malam penuh dengan resiko terutama masalah penyakit kelamin. Setiap bulan suka kontrol kesehatan, agar selalu sehat,” tambah Pussy, sambil sesekali melihat pesan masuk dari pelanggannya yang ingin minta service.

Untuk masalah tarif, pussy tidak pernah ambil pusing namun ada tarif dasar yang harus dipenuhi oleh tamunya. Terutama bagi mereka yang awal-awal berkencan, kecuali untuk yang sudah menjadi langganan tarifnya bisa kurang.

“Minimal 300 ribu per sekali kencan, tapi biasanya banyak yang ngasih lebih. Yang bayar kurang juga ada, biasanya yang sudah langganan seperti di supermarket minta diskon,” canda Pussy, sambil tersenyum renyah mengingat pria hidung belang yang bayarannya kurang.

Pussy tidak menampik suka pilih-pilih tamu prianya, setiap hidung belang yang akan memboking dirinya usianya tidak lebih dari 40 tahun. Sehingga rata-rata usia tamunya diatas dua puluh tahun, satu dua ada juga yang menginjak dewasa, usia 18-19 tahun yang ingin coba-coba merasakan hangatnya pelukan wanita malam.

“Mungkin karena tubuh saya mungil, ada juga tamu yang seusia saya paling lebih dikit. Tapi yang paling saya suka tamu yang sudah punya istri, enak aja, rasanya mak nyoss bisa lebih lama,” terang Pussy, tanpa malu-malu sambil tersenyum penuh isyarat berjuta makna.

Beberapa pengunjung pria, tampak beberapa kali berusaha melirik Pussy yang berbusana menggoda. Mungkin mereka penasaran, saat melihat wanita yang lumayan cantik berpakaian sexi dan menantang.

Setiap bulan, Pussy selalu menyisihkan uangnya untuk dikirimkan kepada orang tuanya. Ibunya sendiri entah dimana, uang yang dikirim kepada bapanya untuk ditabungkan sebagian kecil lainnya diberikan kepada bapanya sebagai tambahan biaya hidup orang tuanya.

Saat disinggung harapan hidupnya kedepan, Pussy mengatakan bahwa dirinya juga wanita normal yang ingin memiliki kehidupan seperti perempuan pada umumnya. Memiliki rumah sederhana, kemudian memiliki suami, punya anak untuk diasuh dan dididik.

“Mimpi saya dimasa depan, memiliki suami yang mampu membimbing saya menjadi orang lebih baik. Diam dirumah mengurus suami, mengurus anak sambil bercengkarama setiap hari. Tapi itu hanya mimpi, yang harus saya perjuangkan dari sekarang,” kata Pussy, sambil menghela nafas dan mengelap bulir-bulir bening di sudut matanya menahan kesedihan.

Pussy berencana hidup di dunia malam dua atau tiga tahun lagi, setelah memiliki rumah mungil dan uang yang cukup dirinya memiliki cita-cita untuk menikah kemudian menutup semua cerita kelam hidupnya di dunia malam.

“Minta do’a nya saja, semoga apa yang saya rencanakan terkabul. Hati saya terkadang menjerit, ingin menyudahi semua kehidupan malam ini kemudian hidup normal, sebagai wanita yang melayani suami dan membesarkan anak-anak,” tutup Pussy, kemudian mengakhiri pembicaraan.

Waktu hampir menunjukan pukul 21.00 WIB dimana caffe tempat mengobrol harus tutup, karena kota Purwakkarta tengah melakukan PSBM covid19.

Semoga saja apa yang dicita-citakan Pussy bisa terkabul, karena tidak sedikit mereka yang berkecimpung di lumpur penuh dosa akhirnya sadar dan menjadi orang yang baik kemudian menjalankan syariat agama secara sungguh-sungguh. (Adw/pojokjabar)

Loading...

loading...

Feeds