Perwira Polisi Nyambi Jadi Petani Sayuran

Salah satu sudut dihalaman rumah perwira polisi  Iptu. Atik Sakron, yang ditanami sayuran hidroponik.

Salah satu sudut dihalaman rumah perwira polisi Iptu. Atik Sakron, yang ditanami sayuran hidroponik.


POJOKJABAR.com, PURWAKARTA – Salah satu perwira di kepolisian Purwakarta membuka peluang usaha di rumahnya, dengan cara memanfaatkan lahan kosong ditanami oleh bermacam-macam sayuran untuk dikonsumsi.

Dengan memanfaatkan lahan kosong di perumahan padat penduduk, personel Polres Purwakarta, Iptu Atik Sakron berhasil mengembangkan pertanian dengan sistem hidroponik guna mewujudkan ketahanan pangan di masa pandemi Covid-19.

Sebagai insan Bhayangkara, tidak menyurutkan langkah Atik berhenti berkarya dalam bertani. Sejak tahun 2017 silam dirinya mulai mengembangkan pertanian modern.

Lahir dari keluarga Petani, Atik mulai Pertanian dengan sistem hidroponik ini dipelajarinya dari internet. Setelah yakin mampu, dia mulai membuat instalasi dengan menggunakan peralon dan ember, yang diberi lubang dan dialiri air.

 

Kanit

Atik Sakron anggota polri berpangkat perwira yang nyambi jadi petani hidroponik

 

“Awalnya sih melihat tutorial di YouTube, karena saya hobby menanam kenapa gak saya coba dipraktekkan aja. Dan alhamdulilah berhasil untuk konsusmsi sendiri, lalu akhirnya saya berfikir untuk skala produksi yang lebih besar. Pertama saya hanya tanam 200 net pot, tapi sekarang sudah 3000 net pot,” ungkap Atik kepada wartawan.

Dijelaskannya, bertani secara hidroponik ini sangat mudah. Siapa pun bisa melakukannya. Sebab, metode menanam tanpa tanah itu hanya memanfaatkan aliran air dan nutrisi. Perawatannya pun berbeda dengan tanaman bermedia tanah yang harus serbaekstra.

“Perawatan tanaman hidroponik bisa kapan saja. Sehari cukup dua kali, pagi dan malam. Itu pun hanya memberikan nutrisi dan memastikan air mengalir. Saya merawatnya waktu pulang kerja,” jelas perwira polisi yang menjabat Kanit Tindak Pidana Korupsi, di Satreskrim Polres Purwakarta.

Atik mengaku, dirinya sudah mencoba 4 system hidroponik baik system DFT atau Deep Flow Technique, NFT Nutrient Film Technique, Wick System, dan rakit apung.

“Dari ke empat metode hidroponik yang sudah saya coba, saya lebih milih system rakit apung disamping mudah perawatannya hasilnya bagus,” ungkapnya.

Atik menambahkan, kelebihan lain sayuran hidroponik, panennya tanpa mengenal musim. Dengan perawatan yang tepat, sayur bisa dipanen sebulan sekali.

“Selain itu, rumah saya tempatnya dekat dengan irigasi jadi lahannya saya memanfaatkan irigasi yang ada di depan rumah sehingga lingkungan tidak terkesan kumuh dan hijau asri, serta bersih,” ungkapnya.

Di tempatnya, Atik menanam sayuran jenis selada, kangkung, bayam merah dan hijau, pakcoy, sawi putih, cabe ungu dan cape hijau. Kebunnya tersebut berada di Jalan Ipik Gandamanah, Gang Sukun I, Kelurahan Ciseureh Kota Purwakarta.

Untuk pemasaran, sambung dia, hasil sayuran di kebun hidroponiknya dijual ke tetangga sekitar dan orang yang lewat serta pesanan beberapa pedagang nasi goreng dan pedagang pecel lele.

“Selain untuk di konsumsi sendiri, untuk saat ini sih baru di jual di sekitar rumah, ke tukang nasi goreng dan tukang pecel aja. Serta suka juga dibagikan kepada tetangga dekat,” ungkapnya.

Sementara itu salah satu ibu rumah tangga yang sering membutuhkan sayuran segar sangat terbantu dengan adanya kebun milik anggota polisi tersebut, karena dirinya tidak perlu repot-repot ke pasar saat membutuhkan sayuran segar untuk memasak.

“Kita jadi lebih hemat waktu, kemudian juga sayurannya sangat terjamin kesehatannya. Karena tidak menggunakkan obat kimia jenis pentisida, jadi selain hemat waktu juga menyehatkan untuk tubuh,” singkat Dedeh (42) salah satu ibu rumah tangga saat habis membeli keperluan sayuran dikebun hidroponik milik anggota Polri tersebut.

Atik merupakansalah satu anggota Polri yang patut ditiru dengan ketelatenannya hingga membuahkan hasil, walaupun sudah perwira namun dirinya tidak gengsi yang nyambi jadi petani. (Adw/pojokjabar)

Loading...

loading...

Feeds