Jelang Hari Kemerdekaan, Dedi Mulyadi Memerdekakan Ijazah Anggi yang Ditahan Pihak Sekolahan

Wakil ketua komisi DPR RI, Dedi Mulyadi saat bertemu dengan pemuda rajin (Anggi) yang berjualan pernak pernik hari kemerdekaan RI di Pom Bensin.

Wakil ketua komisi DPR RI, Dedi Mulyadi saat bertemu dengan pemuda rajin (Anggi) yang berjualan pernak pernik hari kemerdekaan RI di Pom Bensin.


POJOKJABAR.com, PURWAKARTA – Gara-gara belum melunasi uang bayaran sekolah yang nilainya jutaan rupiah, salah seorang siswa yang telah lulus sekolah ijazahnya ditahan pihak sekolahan.

Siswa itu diketahui bernama Anggi lulusan SMK Taruna Sakti tahun ajaran 2018/2019, karena menunggak bayaran sebesar 7,5 juta akhirnya Ijazah Anggi ditahan oleh pihak sekolahan dan tidak diberikan kepada siswa tersebut.

Ditahannya Ijazah Anggi, diketahui dalam postingan video wakil ketua komisi IV DPR RI Dedi Mulyadi, saat tidak sengaja bertemu dengan Anggi saat usai mengisi BBM disalah salah satu pom bensin.

Awalnya Dedi merasa tergugah sama Anggi yang rajin bekerja keras sedang menjual pernak-pernik hari kemerdekaan, yaitu ornamen merah putih sebagai lambang bendera negara.

 

DM

Dedi Mulyadi menerima kwitansi pembayaran Ijazah yang ditahan karena nunggak bayaran dari bagian Administrasi SMK Taruna Sakti, kemudian membayarnya lunas.

 

Setiap hari, Anggi yang usianya diperkirakan masih belasaan tahun ini tanpa rasa malu atau sungkan berjulanan pernak pernik kemerdekaan.

Hal itu tentu saja menggugah mantan orang nomor satu di kabupaten purwakarta, walaupun masih sangat belia sudah bekerja keras untuk membantu kebutuhan hidup orang tuanya. Pemuda yang rajin, tanpa merasa gengsi atau malu saat berjualan ditempat umum.

“Masih sekolah?” tanya Dedi kepada Anggi.

“Sudah lulus pa,” jawab Anggi.

“Lulus tahun berapa,” kata Dedi lagi, saat sudah disuruh masuk kedalam mobil.

“Lulus tahun 2018,” jawab Anggi, menerangkan kelulusan tahun sekolahnya.

“Rajin nih lulusan SMK belum dapat pekerjaan, karena mungkin saat ini sulit mendapatkan pekerjaan industri yang adapun pekerjanya banyak yang dirumahkan karena faktor corona,” kata Dedi, sambil memuji Anggi.

Setiap hari Anggi kadang-kadang mendapatkan uang 50 ribu dari hasil jualannya, uang hasil penjualannya dikasihkan kepada ibunya untuk kepentingan sehari-hari. Termasuk untuk jajan adik-adiknya yang masih berusia sekolah. Sementara ayah anggi merupakan kuli bangunan, yang kadang ada kadang juga tidak ada pekerjaan sebagai kuli.

Atas kerja keras dan rajinnya Anggi, Dedi Mulyadi berkunjung ke rumah orang tuanya untuk mengetahui bagaimana kehidupan sehari-hari Anggi bersama keluarganya.

“Ini menuju rumahnya Muhammad Anggi Afrizal, anak muda yang rajin,” kata Dedi Mulyadi, sambil berdampingan berjalan dengan Anggi.

Dedi kemudian bertanya persoalan yang lebih pribadi kepada Anggi, yaitu sudah memiliki pacar atau belum. Spontan Anggi menjawab belum memiliki pacar, karena belum mau memikirkan masalah pacar lebih memikirkan masa depan.

“Mau bayar ijazah dulu, karna masih ada tunggakan disekolah,” curhat Anggi kepada Dedi Mulyadi, sambil berjalan menuju rumahnya.

Dedi yang mendengar hal itu kemudian tampak termenung mendengarnya, anak muda Rajin yang berada disampingnya ternyata belum merdeka seutuhnya karena ijazahnya ditahan pihak sekolahan. Hanya karena belum melunasi uang sekolah, pihak sekolah SMK menahan Ijazah Anggi.

Dedi Mulyadi kemudian ngobrol dengan ibunya Anggi, kemudian memberikan nasihat kepada adik-adiknya Anggi agar rajin bersekolah dan membantu orang tuanya dirumah membuat pernak-pernik hari kemerdekaan.

Dipenghujung pembicaraan, secara mengejutkan Dedi Mulyadi mengajak Anggi untuk ke sekolahnya. Bertujuan untuk mengambil ijazah, yang ditahan karena belum membayar tunggakan sekolah.

Spontan Anggi langsung menangis dipangkuan Dedi Mulyadi, karena bahagia ijazah yang selama ini tertahan akan di bayar oleh Dedi Mulyadi. Sambil beberapakali menyeka air matanya yang membasahi kedua matanya.

Ibu Anggi yang menyaksikan hal itupun tak kuat menahan haru, tampak ibu Anggi beberapa kali menyeka air matanya saat menyaksikan kemurahan Dedi Mulyadi yang akan membayar seluruh uang tunggakan sekolah putranya.

Setelah sampai di sekolah SMK Taruna Sakti, Anggi dan Dedi Mulyadi kemudian menuju ke bagian Administrasi sekolah tersebut untuk menanyakan jumlah tunggakan Anggi.

“Atas nama siapa ya,?” tanya bagian kasir kepada Anggi, yang didampingi oleh Dedi Mulyadi saat sampai di bagian kasir sekolah swasta tersebut.

“Muhammad Anggi Afrizal, lulusan tahun 2018,” jawab Anggi, dengan kepada bagian keuangan sekolahan tersebut.

“Sisa keseluruhan totalnya 7,5 juta rupiah,” kata bagian keuangan SMK Taruna Sakti, yang kemudian membuatkan kwitansi pelunasan tunggakan sekolah Anggi.

Setelah melihat kwitansi pelunasan sekolah Anggi, Dedi Mulyadi kemudian menyerahkan uang yang dibungkus amplop coklat sambil berkata jumlah uang yang ada di dalam amplop coklat tersebut.

Hari itu Dedi Mulyadi telah memerdekaan seorang anak muda berikut dengan keluarganya, dengan cara membayarkan uang tunggakan sekolah sehingga ijazah yang selama ini tertahan disekolah akan diberikan kepada Anggi. (Adw/pojokjabar)

Loading...

loading...

Feeds