Carut Marut Proyek Kereta Cepat, Akibat Perncanaan Kurang Matang Rakyat yang Dikorbankan

Sekolahan SDN 1 Malangnengah Purwakarta diratakan dengan tanah, demi proyek kereta cepat. Ratusan siswa terpaksa ngungsi di kantor desa, sebelum mendapatkan gedung baru tempat belajar mengajar.

Sekolahan SDN 1 Malangnengah Purwakarta diratakan dengan tanah, demi proyek kereta cepat. Ratusan siswa terpaksa ngungsi di kantor desa, sebelum mendapatkan gedung baru tempat belajar mengajar.


POJOKJABAR.com, PURWAKARTA – Karena kurangnya matang dalam perencanaan dan terkesan terburu-buru, proyek kereta cepat yang rencananya akan menghubungkan Bandung dan Jakarta menuai berbagai polemik di lapangan.

Salah satu kurang matangnya dalam perencanaan yaitu ketika harus mengorbankan ratusan siswa SD, yang terpaksa belajar ditempat fasilitas umum lain (Kantor Desa) akibat dibongkarnya SD tempat belajar karena dilalui kereta cepat.

Seharusnya pihak terkait yang terlibat membuat pekerjaan proyek kereta cepat terlebih dahulu membangun sekolahan baru untuk proses belajar mengajar, bukan membongkar dulu baru membangun sekolahan belakang. Yang pada akhirnya ratusan anak sekolah dasar mengajar di kantor desa.

Kejadian tersebut terjadi di Desa Malang Nengah Kecamatan Sukatani Purwakarta, atau tepatnya sekolahan SDN 1 Malang Nengah. Siswanya terpaksa harus belajar di kantor desa, karena sekolahannya telah dibongkar untuk proyek kereta cepat.

“Sesuai dengan kesepakatan, pihak terkait menjanjikan pembangunan gedung baru sekolahan SD selama 3 bulan. Pembangunannya dimulai awal tahun ini, selesai sekitar akhir bulan Maret nanti,” kata Purwanto, Kepala Dinas Pendidikan Purwakarta.

Sementara untuk proses belajar mengajar sementara, menempati kantor desa setempat. Agar siswa bisa terus mengikuti kegiatan belajar, walaupun harus menempati tempat belajar di kantor kepala desa.

“Jadwal belajarnya seperti hari-hari biasa,kami intruksikan kepada para pengajar (guru) untuk tidak mengurangi jam belajar walaupun harus belajar di kantor desa. Jumlah siswanya ada sekitar 261 siswa,” tambah Purwanto.

Proyek pembangunan kereta cepat menuai berbagai permasalahan, seolah carut marut pembangunan tersebut karena kurang matangnya perencanaan yang terkesan di paksakan.

Dari catatan redaksi, dari mulai pembebasan lahan sudah terlihat permasalahan walaupun pada akhirnya bisa diselesaikan.

Kemudian saat proyek berjalan, viva pertamina sempat bocor hingga mengeluarkan api yang besar walaupun pada akhirnya bisa diatasi.

Lokasi Viva pertamina yang bocor berlokasi di Bandung.
Selanjutnya, banyak jalan-jalan utama yang dilalui kendaraan dari proyek kereta cepat mengalami kerusakan. Segingga fasilitas umum jalan tetsebut banyak dikeluhkan warga masyarakat.

Dampak dari pembangunan kereta cepat juga berdampak banjir, seperti yang terjadi di Bandung Barat. Padahal lokasi tersebut selama bertahun-tahun lalu tidak pernah banjir, tapi setelah adanya pembangunan proyek kereta cepat menjadi banjir.

Dan yang lebih miris lagi, dampak pembangunan kereta cepat mengorbankan ratusan para tunas muda karena bangunan sekolahan tempatnya belajar dibongkar. Terpakasa para siswa dan siswi belajar di kantor Desa. Kemungkinan akibat kurang matangnya pernecanaan, Proyek pembangunan kereta cepat tampak carut marut dengan berbagai permasalahnnya. (Adw/pojokjabar)

Loading...

loading...

Feeds