Dagangan Tak Terjual Harap-harap Cemas, Anak Istri di Rumah Bisa Jadi Berpuasa

Yana (43) pria tuna daksa, saat melayani pembeli yang hendak membeli barang makanan ringan miliknya di sudut spbu jalan veteran purwakarta.

Yana (43) pria tuna daksa, saat melayani pembeli yang hendak membeli barang makanan ringan miliknya di sudut spbu jalan veteran purwakarta.

POJOKJABAR.com, PURWAKARTA – Pada salah satu sudut SPBU, tampak seorang pria paruh baya mengenakan topi duduk sambil bersender.

Sorot matanya harap-harap cemas, melihat dagangannya yang masih menumpuk belum terjual habis. Karena bila sampai dagangannya tidak terjual, maka bisa jadi anak dan istrinya di rumah akan berpuasa.

Hidup dengan kekurangan fisik bukan berarti harus berhenti dari aktifitas dan tidak mencari nafkah, namun tetap harus semangat untuk selalu mencari rejeki yang telah dihamparkan oleh sang pencipta.

Seorang ayah ini tanpa rasa risi dan sungkan, demi untuk tetap bisa menyekolahkan anak-anak dan menafkahi istri tercintanya, mencari nafkah setiap sore hingga jelang tengah malam.

“Saya punya anak jumlahnya 4 orang, yang paling besar kelas 3 sementara yang paling kecil usianya baru 3 tahun,” ujar Yana (43), pria tangguh yang tetap berjuang untuk menafkahi keluarganya, walaupun memiliki kekurangan fisik kehilangan dua tangannya (tuna daksa) saat diwawancara pojokjabar.

Yana kemudian bercerita, sekitar dua tahun lalu dirinya mengalami kecelakaan saat bekerja sebagai kuli bangunan. Akibat dari kecelakaan tersebut, Yana harus diamputasi hingga diatas sikut dan kehilangan kedua tangannya.

“Alhamdulillah, walaupun kondisi seperti ini tapi masih bisa mencari nafkah untuk menghidupi keluarga. InsyaALLAH cukup, buat makan sehari-hari,” tutur Yana, tanpa ada sedikitpun ada keluhan dari kata-kata yang keluar dari bibirnya.

Setiap hari, dirinya mampu menjual antara 25-75 bungkus cemilan kue kering yang dijualnya. Walaupun tak seberapa besar keuntungannya, namun Yana selalu sabar dan tekun berjualan dirinya selalu bersyukur atas rezeki yang diperolehnya.

“Ya kalau setiap hari suka bawa uang 70 ribu, itupun kalau dagangannya terjual semua. Kalau tidak terjual semua paling bawa uang 30 ribu rupiah ke rumah,” cerita Yana, walaupun dirinya dalam kondisi kekuarangan namun tampak cekatan melayani pembeli.

Harapan Yana sederhana, yang penting keluarganya di rumah bisa tercukupi untuk kebutuhan makan sehari-harinya kemudian juga buat biaya pendidikan anak-anaknya.

“Cukup ga cukup Insya ALLAH cukup, walaupun mungkin secara kasat mata hanya berpenghasilan kadang hanya dapat 30 ribu. Dicukup-cukupkan, karena ada rezeki-rezeki lainnya yang tak kasat mata. Seperti kesehatan baik itu untuk diri saya, anak-anak dan istri,” papar Yana, saat menjelaskan perolehan laba hasil uang dagangannya.

Sambil sesekali merenung, lelaki yang tak tampak raut susah di wajahnya tersebut, membeberkan juga dari mana dirinya mendapatkan barang-barang dagangan yang dijualnya.

“Kebetulan ada orang yang percaya, sebenarnya banyak yang percaya saat saya mengambil barang-barang dagangan untuk dijualkan. Tapi tidak sedikit pula yang mencibir, karena keterbatasan fisik saya ini. Namun itu semua dijadikan cambuk untuk penyemangat, bahwa saya sanggup dan bisa,” kata Yana, saat ditanya merasa kesulitan tidak mendapatkan kepercayaan dari pemilik barang.

Sebagai seorang pria, yang memiliki tanggung jawab terhadap keluarga dirinya akan berusaha sekuat tenaga untuk terus berjuang mencari nafkah yang halal dan baik.

“Yang penting rejeki yang dimakan anak istri halal, jadi saya selalu berihktiar dan berdo’a agar selalu diberi rejeki yang cukup untuk keluarga. Tidak ingin jadi pengemis dari belas kasihan orang, walaupun kondisi saya seperti ini,” beber Yana, dengan kata-kata dan kalimat yang mantap penuh dengan semangat.

Yana mungkin sebagian kecil dari orang-orang yang memiliki dedikasi tinggi, memiliki tanggungjawab besar, memiliki kemauan kuat demi untuk menafkahi keluarganya walaupun tuna daksa. Walaupun beban itu terasa berat di pundaknya, namun dia yakin mampu untuk memikulnya dibarengi dengan do’a-do’a harapan kepada sang pencipta.

Yana biasa mangkal menjajakan dagangan dari sore hingga menjelang tengah malam, setiap hari melakukan rutinitas seperti itu. Yana biasa mangkal di pom bensin- pom bensin yang ada di seputaran Kota Purwakarta.

“Dari ba’da Ashar hingga tengah malam, karena kalau pagi hingga siang banyak kegiatan di rumah meringankan beban istri mengasuh anak. Anak saya kan masih kecil-kecil, kalau istri sibuk mengerjakan pekerjaan rumah saya yang mengasuh anak-anak,” jelas Yana, sambil tersenyum saat ditanya aktifitas sehari-harinya bila sebelum berjualan.

(Adw/pojokjabar)

Loading...

loading...

Feeds