Nilai Tukar Dolar Melemah, Produsen Tempe Purwakarta ‘Menjerit’ Begini

Penjual kacang kedelai (ilustrasi)

Penjual kacang kedelai (ilustrasi)

Cari Aman

POJOKJABAR.com, PURWAKARTA– Produsen tempe rumahan di Kabupaten Purwakarta, terkena imbas melemahnya nilai tukar rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat.

Pasalnya, sebulan terakhir harga kacang kedelai impor terus merangkak naik. Kenaikan harga bahan baku tempe itu mencapai 12 persen.

“Sebelum dolar tembus di angka kisaran Rp15.000 saja, harga kacang kedelai sudah mencapai Rp790 ribu per kuintal dari awalnya Rp700 ribu per kuintal,” ujar Absori (38) salah satu produsen tempe rumahan di Kampung Sukasari, Desa Cibogohilir, Kecamatan Plered, Purwakarta, Kamis (6/8).

Hal senada juga diutarakan Suhaeni (55) produsen tempe asal Pekalongan Jawa Timur yang saat ini menjalankan usahanya di wilayah Plered.

Selama tiga puluh tahun sebagai menjalankan usaha produsen tempe, Suhaeni mengaku baru kali ini dirinya dibuat bingung dengan kondisi harga bahan dasar tempe yang terus merangkak naik.

“Agar para pembeli tidak merasa kaget dengan harga tempe saat ini, sepertinya saya tidak akan menaikan harga tempe, justru ukurannya yang akan sedikit saya kecilkan,” katanya.

Suhaeni menambahkan, bukan hanya harga kacang kedelai-nya saja yang mengalami kenaikan. Harga daun pisang yang biasa dijadikan sebagai bungkus tempenya pun ikutan naik.

“Saat ini saya menjual tempe mulai dari harga Rp1.500-Rp6.000 per batangnya,” kata Suhaeni.

Diketahui, Indonesia merupakan salah satu importir kacang kedelai terbesar se Asia. Kacang tersebut di impor dari negara luar seperti Argentina dan Amerika, maka pantas saja jika saat ini kenaikan dollar sangat berdampak bagi naiknya harga bahan dasar tempe di Indonesia.

(feb/rmol/pojokjabar)


loading...

Feeds