Mitos Batu Hurip di Kecamatan Selajambe, Pernah Dipimpin Kades Wanita Tak Dikenal

Batu Hurip di Desa Padahurip, Kecamatan Selajambe, Kabupaten Kuningan./Foto: Ega

Batu Hurip di Desa Padahurip, Kecamatan Selajambe, Kabupaten Kuningan./Foto: Ega


POJOKJABAR.com, KUNINGAN– Batu besar di Desa Padahurip, Kecamatan Selajambe, Kabupaten Kuningan kerap dikaitkan mitos sebagai batu yang hurip, hirup, hidup.

Batu besar ini bernama Batu Hurip yang menjadi ikon jika memasuki kawasan Kecamatan Selajambe.

Keberadaan batu hurip yang berada di perbatasan antara Desa Cimenga, Kecamatan Darma, dan Desa Padahurip, Kecamatan Selajambe ini sangat terlihat dan mudah diingat

Bahkan, di kalangan masyarakat setempat pernah beredar rumor soal batu hurip yang membesar. Tidak semua warga mempercayai mitos ini.

Sejak ratusan tahun silam, batu yang berasal dari gunung ini terseret ke bawah. Konon, ada Batu Lumbung yang belum turun ke bawah.

 

Sejarah Desa Selajambe

Dilansir dawi website Desa Selajambe (/desa-selajambe.kuningankab.go.id), Desa Selajambe asal mulanya disebut Desa CIDADAP, beribu Kota di CILIMUS, dekat kaki gunung kehutanan negara atau sebelah utara dari Kali Cijolang.

Desa Cidadap didirikan pada tahun 1789 M, dipimpin oleh seorang Kepala Desa Wanita yaitu yang namanya tidak dikenal dan dibantu oleh para Lelugu Kampung dan seorang Kabayan.

Selama memangku jabatannya sebagai Kepala Desa, ia dikenal sangat baik dan supel, bertanggung jawab terhadap rakyatnya dan tidak terpaku kepada adapt peraturan Pemerintah Penjajah Belanda.

Mata pencaharian rakyat pada waktu itu yaitu bercocok tanam/bertani dan tanaman yang diutamakan adalah padi sawah, padi huma dan umbi-umbian, dengan sistim bertani tidak menetap atau berpindah-pindah tempat, karena setelah tanah-tanah tersebut kurang subur mereka meninggalkannya dan mencari / memilih lagi tanah masih subur.

Bangunan-bangunan perumahan rakyat dan pemerintah pada waktu itu dibuat dari bahan kayu, bamboo yang beratapkan alang-alang dan ijuk dengan model bangunan sangat kasar sekali bahannya tebal tanpa ukiran potongan yang sederhana tapi cukup kuat dan tahap lama.

Penduduk pada waktu itu beragama islam kehindu-hinduan dan kesenian tradisional rakyat pada waktu itu sudah ampak seperti dog dog untuk hiburan ngareog dan dapat dipentaskan pada acara khitanan, pernikahan dll, dan seni genjringpun dipentaskan pada bulan mulud yang tempatnya dilaksanakan di Mesjid dan Langgar-langgar.

Seperangkat Goong pun sudah ada, yang digunakan untuk seni Tayuban yang setiap tahun dilaksanakan acara Hajat Desa/Tahunan dengan disebut Babaritan.

Berhubung keadaan penduduk pada waktu itu merasa tidak aman dari gangguan-gangguan binatang buas seperti harimau, babi hutan dll, yang selalu mengganggu ketertiban rakyat terutama sekali merusak tanam-tanaman pertanian rakyat, maka penduduk desa tersebut berusaha untuk menghindari dari gangguan-gangguan binatang tersebut dengan jalan berpidah tempat ketempat yang lebih aman sambil bercocok tanam tetapi perpidahan tempat itu tidak jauh dari dari tempat asal hanya beberap puluh kilometer saja.

Seiring dengan perkembangan jumlah Penduduk semakin pesat, maka tempat tingal pendudukpun terus menyebar kearah selatan yang mendekati aliran sungai cijolang, sehingga ibu kota desa pun berpidah tempat dan namna desanya berganti menjadi Desa Selajambe sampai sekarang.

 

(mar/ega/pojokjabar)

Loading...

loading...

Feeds