Curhat Penjual Cuanki di Pangandaran Terdampak Viral ‘Mangkok Diludahi”

Bakso cuanki

Bakso cuanki


POJOKJABAR.com, PANGANDARAN– Itang, penjual Cuanki di sekitar Pantai Pangandaran, sekaligus bos Cuanki memperingatkan  sebanyak 23 anak buahnya agar tak coba-coba pakai jimat penglaris.

“Saya di Pangandaran ada 23 tanggungan untuk jualan Cuanki. Tapi sekarang yang jualan baru 4 orang. Sisanya mungkin nanti menyusul setelah pantai Pangandaran ramai pengunjung,” kata Itang.

Itang menjelaskan, jimat penglaris paling ampuh adalah berdoa setelah salat dan selalu bersih saat berjualan. Selain itu, harus diperhatikan kebersihan sendok dan tanggungan jualan.

“Jualan di pantai itu, sendok dan benda logam lainnya cepat berkarat. Makanya saya wanti-wanti ke teman-teman agar sendok jangan sampai berkarat. Kalau kitanya “berseka” (higienis), pembeli akan senang,” kata Itang, dilansir dari detikcom.

Ia pun menyesalkan kejadian penjual Cuanki meludahi mangkok saat melayani pembeli, lantaran berdampak kepada para penjual Cuanki di Pangandaran.

“Hampir setiap orang yang jajan pasti menanyakan itu. Saya hanya bisa menjelaskan bahwa saya tidak seperti itu,” kata Itang, penjual Cuanki di sekitar pantai Pangandaran, Sabtu (27/6/2020) malam.

Ia pun akhirnya memilih sengaja meracik dagangannya di depan pembeli.

“Sengaja saya membuatnya di hadapan pembeli. Saran saya kepada pembeli, sebaiknya kalau jajan Cuanki dilihat langsung pas membuatnya. Biar semua yakin,” kata Itang yang berasal dari Kecamatan Singajaya Kabupaten Garut

Ia mengaku jengkel dan kesalm dengan kelakuan penjual Cuanki di Jakarta tersebut, karena usahanya kini terdampak dari insiden tersebut.

Padahal, baru saja hendak bangkit akibat pandemi Corona.

“Jadi “ngabalerang” (memberi citra buruk) ke semua pedagang Cuanki,” kata Itang.

Dirinya mengaku tak yakin ada ritual penglaris semacam itu.

“Seumur-umur saya baru dengar ada penglaris seperti itu, kalau dugaan saya, mungkin dia stres,” kata Itang.

Itang mengaku pernah mencoba penglaris usaha. Tapi metoda atau ritualnya tak seperti itu. Itang mengaku pernah meminta jimat atau isim untuk membantu menggenjot usahanya.

“Saya pernah “nyare’at” (meminta bantuan orang pintar) tapi hanya diberi isim, kemudian ditaruh di laci tempat menyimpan uang. Tapi bukan ke dukun, ke ajengan,” kata Itang.

Ia menebus isim itu dengan mahar sebesar Rp 1 juta dengan “janji” pemikat omzet jualan yang akan meningkat. “Tapi ya tetap saja, yang namanya dagang kalau lagi marema ya marema, sepi mah sepi aja,” kata Itang.

Isim sendiri merupakan benda bertuah bertuliskan rajah atau kalimat-kalimat huruf arab. Medianya tulisnya bisa kulit hewan atau sekedar kertas biasa.

Itang pun mengaku pernah “nyare’at”, dengan membawa garam ke orang pintar di Garut, dibacakan jampi-jampi, garam dalam jumlah banyak, dan digunakan untuk bumbu jualan Cuanki.

“Tapi itu dulu, ya saya pernah mencoba. Kalau sekarang mah tidak lagi, sekarang mah lebih baik berdoa langsung ke Allah SWT. Bukan minta laris jualan, tapi meminta rejeki yang halal dan berkah. Yang penting “saeutik mahi loba nyesa” (sedikit cukup banyak bersisa),” tandas Itang.

(mar/pojokjabar)

Daftar untuk Tonton Launching Motor Honda New PCX Klik Disini
Loading...

loading...

Feeds