Ratusan Kasus DBD Serang Kuningan, Dinkes Beberkan Data

Ilustrasi DBD.

Ilustrasi DBD.


POJOKJABAR.com, KUNINGAN– Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinkes Kuningan Iud Sudarman mengungkap hal terkait jumlah penderita DBD di Kabupaten Kuningan.

Menurut Iud, selama kurun waktu Januari hingga November tercatat sudah 483 kasus dengan empat di antaranya meninggal dunia. Namun demikian, Iud memastikan, kondisi tersebut tidak masuk kategori kejadian luar biasa (KLB).

“Angka tersebut tidak jauh beda dengan tahun 2018 lalu, sehingga tidak masuk kategori KLB. Adapun daerah terbanyak kasus DBD masih terjadi di Kecamatan Kuningan dengan 72 kasus disusul Lamepayung 59 kasus Sukamulya 49 kasus,” paparnya.

Daerah-daerah tersebut, kata Iud, merupakan kawasan padat penduduk sehingga patut menjadi perhatian bersama. Oleh karena itu, Iud mengajak kepada masyarakat untuk menerapkan kembali pola hidup bersih dan sehat.

“Caranya dengan menjaga lingkungan agar selalu bersih dan menghindarkan tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk. Jangan menunggu sampai kejadian anggota keluarga atau tetangga terkena DBD, kemudian ramai-ramai minta fogging,” katanya.

“Padahal fogging itu hanya sifatnya membasmi nyamuk dewasa, sedangkan jentik nyamuk di genangan masih bisa hidup. Mari sejak awal kita jaga lingkungan, karena mencegah lebih baik dari mengobati,” jelas Iud.

Seperti diketahui, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kuningan mulai mengantisipasi penyebaran penyakit demam berdarah dengue (DBD) yang rawan terjadi pada musim penghujan.

Iud mengungkapkan, musim penghujan merupakan kondisi rawan berkembangnya nyamuk Aedes Aegypti penyebar penyakit DBD.

Oleh karena itu, Dinkes melakukan sejumlah upaya pencegahan. Salah satunya menginstruksikan kepada seluruh puskesmas yang ada di Kabupaten Kuningan untuk melakukan penyuluhan tentang DBD kepada masyarakat.

“Melalui puskesmas-puskesmas, kami sudah instruksikan untuk kembali gencar melakukan penyuluhan kepada masyarakat tentang pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan metode 3M Plus. Termasuk menggiatkan kembali program Jumantik atau Juru Pemantau Jentik di setiap rumah sehingga tidak ada tempat bagi nyamuk Aedes Aegypti untuk bersarang dan menyebarkan penyakitnya,” ungkap Iud kepada Radar Kuningan (Pojokjabar.com group).

Menurut dia, musim hujan saat ini memicu berkembangnya nyamuk Aedes Aegypti di lingkungan masyarakat. Sehingga perlu kewaspadaan bersama untuk mengatasinya.

Salah satu yang kini gencar dilakukan adalah mengerahkan kembali Jumantik di setiap rumah warga. Jumantik, kata Iud, merupakan penunjukkan salah satu anggota keluarga untuk bertugas melakukan pemantauan lingkungan dari setiap tempat yang mungkin dijadikan sarang nyamuk mulai dari bak mandi, wadah minum burung, penampungan air belakang kulkas hingga wadah kecil yang bisa menampung air hujan.

“Kadang tempat-tempat kecil tersebut luput dari perhatian dan akhirnya menjadi sarang nyamuk. Petugas Jumantik ini dengan dibantu anggota keluarga yang lain melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan cara 3M Plus yaitu menguras, menutup dan mendaur ulang plus melakukan pencegahan seperti menabur serbuk ABT di tempat penampungan air, menanam tanaman anti nyamuk hingga memelihara ikan pemangsa jentik seperti cupang dan lainnya,” tutup Iud.

(fik/RK/pojokjabar)

Share this:

Loading...

loading...

Feeds