JPU Kejari Majalengka Tuntut Irfan Nur Alam 2 Bulan Penjara

Kasi Pidum Kejaksaan Negeri Majalengka, Faisal Amin./Foto:

Kasi Pidum Kejaksaan Negeri Majalengka, Faisal Amin./Foto:


POJOKJABAR.com, MAJALENGKA– Putra Bupati Majalengka Karna Sobahi, Irfan Nur Alam kini menjadi terdakwa terkait kasus penembakan terhadap salah seorang kontraktor asal Bandung.

Ia dituntut 2 (dua) bulan penjara oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Agus Robani.

Tuntutan tersebut dibacakan JPU dalam sidang tuntutan yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Majalengka, Kamis (26/12/2019) sore.

Irfan Nur Alam bersama rekannya Soleh Saputra dan Udin Samsudin masing-masing mendapat tuntutan selama 2 (dua) bulan penjara dikurangi masa tahanan oleh JPU Agus Robani, karena dinilai telah melanggar pasal 360 ayat 2 yang merupakan pasal alternative dari pasal 170 ayat 1 sebagaimana yang didakwakan.

Irfan Nur Alam dalam sidang perdana Senin (16/12/2019) pekan lalu, didakwa telah melakukan tindak pidana pengeroyokan atau karena kealpaannya menyebabkan orang lain luka-luka sedemikian rupa, sebagaimana dimaksud Pasal 170 Ayat (1) KUHPidana Jo Pasal 360 Ayat (2) KHUPidana.

Dakwaan JPU Kejaksaan Negeri Majalengka itu, berbeda dengan pernyataan pihak kepolisian di media yang menetapkan tersangka atas aksi penembakan dan kepemilikan senjata api dan dijerat dengan Pasal 170 KUHP Juncto Undang-undang nomor 12 Tahun 1951 tentang penyalahgunaan senjata api.

Dengan adanya perbedaan antara pernyataan kepolisian dan dakwaan JPU tersebut menimbulkan kesan ada perubahan pasal yang diterapkan terhadap Irfan oleh pihak Jaksa.

Kepala Seksi Tindak Pidana Umum (Kasi Pidum) Kejaksaan Negeri Majalengka Faisal Amin saat dihubungi menyatakan pihaknya tidak melakukan perubahan pasal.

“Tidak ada perubahan pasal, kami menjalankan tuntutan sesuai berkas dari awal penyidik,” katanya, saat dihubungi.

Memang pada saat penyidikan, penyidik menerapkan Irfan dengan Pasal 170 KUHP Juncto Undang-undang darurat.

“Setelah menerima berkas dari penyidik dan diteliti, ternyata senjata api yang digunakan dan meletus itu berizin dan legal dimiliki terdakwa,” terangnya.

Pihak JPU sendiri sudah meminta pendapat kepada saksi ahli, perihal pasal yang diterapkan.

“Untuk itu kami meminta ahli khusus dari polda Jabar kasi Yanmin (intel) untuk menerangkan keabsahan soal senjata yang dimiliki Irfan,” paparnya.

Hasil keterangan saksi ahli, diperoleh keterangan bahwa senjata ini diurus secara legal.

“Saya minta penyidik untuk periksa siapa yang berwenang menerbitkan dan yang mengurus nomor register senjata api ini dan disampaikan bahwa itu tercatat, artinya ada izin dari Mabes Polri,” kata Faisal.

Oleh karena itu menurut kami, lanjut Faisal, Pasal yang tidak akan terbukti, buat apa didakwakan.

Dengan adanya senjata itu legal, dan ada keabsahan serta sesuai aturan, otomatis pasal UU Darurat tanpa hak tidak akan terpenuhi karena yang bersangkutan punya hak.

“Untuk itu kami meminta kepada penyidik untuk mencari pasal yang lebih sesuai, dan Pasal 170 Ayat (1) KUHPidana Jo Pasal 360 Ayat (2) KHUPidana yang kemudian kita terima,” jelas Faisal.

Korban Panji Kusuma lalu menjelaska ke media soal aksi penembakan oleh knum ASN Pemkab Majalengka yang disebut anak kedua dari Bupati Majalengka.

Panji menceritakan bahwa kejadian pengeroyokan dan penembakan dilakukan di Ruko Hana Sakura, Cigasong, Majalengka, Jawa Barat, pada Minggu (10/11/2019) malam.

Dijelaskan, sebelum terjadinya penembakan itu, Panji dan 12 pegawai perusahaan yang dikelolanya datang ke Majalengka untuk menagih uang proyek kepada oknum ASN Pemkab Majalengka berinisial IN yang merupakan anak bupati Majalengka. Awalnya Panji diminta menunggu di rumah anak Bupati Majalengka.

“Tepatnya maghrib kami mengadakan shalat berjemaah dulu di sana,” kata Panji di Bandung, Selasa (12/11/2019).

Tak berselang lama, orang suruhan IN kemudian meminta Panji untuk bergeser menunggu di sebuah ruko. Mereka pun tiba di lokasi yang dimaksud sekitar pukul 19.30 WIB.

Karena lama menunggu, dia pun sampai ketiduran di mobil.

“Kami tunggu cukup lama di sana sampai jam 22.00 WIB, saya sudah ketiduran di dalam mobil, belum terjadi apa-apa,” katanya.

Pukul 23.30 WIB, Panji pun terbangun setelah mendengar suara letusan tembakan. Ia juga kemudian dibangunkan teman dan orang-orang dari IN.

“Pas saya bangun, saya lihat ternyata ada penuh, kisaran 30-40 orangnya Bapak IN yang sudah terjadi pengeroyokan terhadap pegawai saya. Yang menjadi korban tiga. Itu pegawai sekaligus adik dan kakak saya,” tuturnya.

Tak lama kemudian, Panji dibawa keluar dari mobilnya secara paksa oleh sejumlah orang.

Di dalam perjalanan, IN yang menenteng senjata api kemudian menghampiri dan merangkul Panji sambil mengucapkan kata-kata ancaman.

“Saya dirangkul IN yang sambil menenteng senpinya, persis di depan kantor IN, dia ancam bunuh saya. Katanya kamu di sini bikin masalah terus, kamu di sini bikin rusuh terus. Padahal, kami di sana tidak ada niat keributan, sajam pun kami tak ada,” kata Panji menirukan ucapan pelaku.

Panji kemudian dibawa masuk ke kantor IN. Di situlah, Panji diberi uang Rp 500 juta untuk pembayaran utang.

“Hanya caranya (membayar) pun uang dilempar ke bawah diinjak-injak. Saya berlumuran darah, uangnya pun kena darah saya,” katanya.

“Dari situ, saya keluar tanpa memikirkan uang, saya lari ke RSUD, kemudian lanjut ke polres untuk bikin laporan. Jadi ceritanya memang Rp 500 juta dibayar, tapi setelah terjadi penembakan,” tuturnya.

Panji juga mengaku bahwa IN sempat menodongkan senjata ke arahnya. Letusan tembakan pun sempat terlontar.

Namun, pada tembakan pertama, Panji bisa mengelak sehingga peluru mengenai paha seseorang yang disebut sebagai orang IN. Namun, tembakan berikutnya melukai tangan kiri Panji.

“Korbannya (penembakan) di sana ada dua, orangnya IN dan saya,” ucapnya.

(arf/pojokjabar)

Daftar untuk Tonton Launching Motor Honda New PCX Klik Disini
Loading...

loading...

Feeds