Ini Ngabuburit On The Street ala DPD KNPI Kuningan

DPD KNPI Kabupaten Kuningan dan unsur lainnya melakukan aksi pembubuhan tanda tangan di area Taman Kota Kuningan. Ahmad/pojokjabar

DPD KNPI Kabupaten Kuningan dan unsur lainnya melakukan aksi pembubuhan tanda tangan di area Taman Kota Kuningan. Ahmad/pojokjabar


POJOKJABAR.com, KUNINGAN – Peduli terhadap kemajuan pendidikan di daerah, DPD KNPI Kabupaten Kuningan melakukan aksi pembubuhan tanda tangan di area Taman Kota Kuningan. Aksi yang dikemas dalam KNPI Ngabuburit On The Street itu, diisi pula dengan konser akustik dan diskusi insan pendidikan peduli persatuan.

Sembari menunggu waktu berbuka puasa, para aktivis dari berbagai organisasi kepemudaan saling bertukar pikiran dalam suasana diskusi kependidikan. Bahkan ketika di penghujung diskusi, KNPI memberikan penghargaan kepada guru honorer yang mengabdi selama 19 tahun dengan gaji hanya Rp300 ribu sebulan dan pegiat kebudayaan lokal Kuningan.

Guru Honorer MI Maleber, Laela asal Desa Karangtengah Kecamatan Maleber Kabupaten Kuningan usai menerima penghargaan mengaku, Minggu (12/5/2019), bahwa saat pertama kali mengajar di sekolah hanya menerima gaji Rp100 ribu setiap bulan.

“Dulu waktu pertama kali gaji ya cuma Rp100 ribu. Kemudian makin lama kesini naik sekitar Rp290 ribu, dan sekarang sudah Rp300 ribu per bulan,” kata Laela yang kini berstatus janda anak dua tersebut.

Dengan gaji yang masih jauh dari cukup, Laela harus berjuang menghidupi anak-anaknya yang masih bersekolah. Anak pertama sudah menginjak di SMA dan anak keduanya masih di SD.

“Alhamdulillah saja istilahnya lah gitu, suami dulu ada, kerjanya serabutan, tapi sekarang udah gak bersuami lagi,” ungkapnya.

Saat ini, Ia harus rela tinggal di kontrakan sederhana yang menjadi beban tambahan hidupnya.

Ketua DPD KNPI Kabupaten Kuningan, Masuri mengatakan, bahwa apresiasi yang diberikan sebagai bentuk kepedulian terhadap pejuang dunia pendidikan. Walaupun dengan gaji seadanya, sosok pendidik tersebut patut diberi penghargaan.

“Kita ingin memberikan penghargaan kepada para pejuang pendidikan, yang betul-betul ingin memajukan pendidikan di daerah. Perjuangan beliau sebagai guru honorer patut dicontoh, dan menjadi teladan bagi guru-guru yang lain,” ujarnya.

Pihaknya menilai, bahwa perjuangan seorang guru untuk mencerdaskan generasi penerus bangsa, bukanlah hal mudah. Sebab saat ini, banyak didapati anak-anak pelajar yang justru lebih asyik dengan dunia gadget.

“Perjuangan seorang guru itu bukan pekerjaan mudah, apalagi sekarang banyak anak-anak yang malah lebih suka main gadget atau game ketimbang pelajaran sekolah. Nah hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi para pendidik, terlebih mereka yang masih berstatus honorer dengan gaji alakadarnya,” pungkasnya.

(amd/pojokjabar)

Loading...

loading...

Feeds