Jadi Penyumbang PAD Terbesar, Namun Jatinangor Minim Fasum dan Fasos

Tampak pemandangan jembatan Cincin yang berada di wilayah Kecamatan Jatinangor.

Tampak pemandangan jembatan Cincin yang berada di wilayah Kecamatan Jatinangor.


Dosen Fakultas Dakwah dan Humaniora UIN SGD Bandung itu pun mengkritisi pembangunan di Jatinangor yang marak tanpa adanya manfaat bagi warga lokal. Seperti pembangunan apartemen dan perumahan yang tampak mewah.

“Harusnya pembangunan yang memberi dampak dan dirasakan masyarakat lokal. Kalau seperti ini masyarakat lokal hanya sebagai penonton saja,” ucapnya.

Diketahui, sejumlah masyarakat Kecamatan Jatinangor mempertanyakan kembali rencana pembentukan kawasan perkotaan Jatinangor (KPJ) yang telah lama diperbincangkan oleh DPRD dan tokoh masyarakat Jatinangor.

Pernyataan muncul dari Kades Mekargalih Dadan Jamaludin. Menurutnya ada isu pembentukan Kabupaten Bandung Timur (KBT) tak salah jika Jatinangor masuk kedalam wilayah KBT. Sebab Dadan menilai Jatinangor sebagai etalase Kabupaten Sumedang dan menjadi penyumbang PAD terbesar kurang mendapatkan perhatian dari Pemkab Sumedang.

“Sejauh ini masyarakat bertanya sejauh mana anggota dewan dan pemangku kepentingan di Pemkab Sumedang memperjuangkan untuk menjadi Kawasan Perkotaan Jatinangor. Namun sejauh ini belum ada aksinya,” katanya.

Menurut Dadan, tak menutup kemungkinan jika Jatinangor dibiarkan tak terurus oleh Pemkab Sumedang maka masyarakat lebih memilih masuk kedalam wilayah KBT.

Sebagai contoh, lanjut Dadan pengelolaan sampah di Jatinangor yang tidak terurus Pemda. Sebab Pemda hanya bisa menyediakan dua armada. Padahal volume sampah di Jatinangor sangat tinggi dan perlu penanganan serius.

“Belum urusan yang lain seperti alun-alun, fasos dan fasum. Jatinangor berkesan tertinggal dengan kecamatan lain. Harusnya Jatinangor mendapatkan porsi yang lebih karena PAD-nya pun besar,” ujarnya.

(RBD/tha/pojokjabar)

Daftar untuk Tonton Launching Motor Honda New PCX Klik Disini
Loading...

loading...

Feeds