Mengerikan… Belasan Rumah di Majalengka Terancam Abrasi

Tanah Longsor di Majalengka Menyebar ke Rumah Warga.

Tanah Longsor di Majalengka Menyebar ke Rumah Warga.

POJOKJABAR.com, PRIANGAN – Sedikitnya 12 rumah dari 150 Kepala Keluarga (KK) di Blok Senin Rt 01/02, Desa Panjalin Kidul, Kecamatan Sumberjaya, Kabupaten Majalengka terancam abrasi, yang kini hanya berjarak satu hingga dua meter dari bibir Sungai Ciwaringin.

Ketua RT setempat, Kardi Sohir mengatakan, abrasi sudah terjadi sekitar sejak tahun 90-an lalu.

Kondisi tebing Sungai Ciwaringin terus mengikis tanah hingga beberapa rumah sudah tergerus air. Terlebih saat ini memasuki musim hujan menghawatirkan kembali terjadinya abrasi.

Dia juga mengaku, sudah beberapa kali bersurat ke pemerintah pusat melalui BBWS.

Namun karena tidak ada tanggapan serius mengakibatkan sedikitnya delapan unit rumah ambles tergerus aliran sungai. Bahkan saat ini juga mengancam puluhan rumah lainnya serta ratusan KK diwilayah tersebut.

“Kami berharap kepada pemerintah agar bibir sungai tersebut segera dilakukan penyenderan secara permanen. Dikarekan dengan cara itu, warga akan merasa nyaman. Terutama bagi masyarakat yang rumahnya diatas tebing tersebut,” katanya

Bahkan akibat abrasi tersebut, menurut Kardi, selain telah menghanyutkan beberapa rumah dan saat ini juga mengancam belasan rumah lainnya, juga sudah memutuskan akses jalan alternatif antar dua blok.

Beruntung, lanjut dia, ada pemilik tanah di blok Senin sampai harus merelakan pagar pembatas tanah di jebol untuk kepentingan akses jalan.

“Karena untuk sekolah madrasah dan keperluan beribadah, dari Rt kami. Yakni Rt 01 harus melewati jalan tersebut, karena kondisi sarana ibadah juga berada di RT seberang sana. Begitu juga sebaliknya warga dari Rt lain harus memenuhi pelayanan Posyandu di blok kami. Jadi saling membutuhkan jalan ini,” bebernya.

Sementara itu, salah seorang warga yang rumahnya terancam abrasi mengatakan, sebenarnya ia bersama warga lainnya ingin pindah dari lokasi tersebut, tapi belum memiliki tanah.

“Takut juga tinggal disini, apalagi kalau musim hujan gini. Sewaktu-waktu air sungai tersebut akan mengikis tebih tanah ini dan mengakibat ambruk sehingga akan menerjang rumah kami, tapi mau pindah juga belum memiliki tanah lainnya,” keluhnya.

Menurut Oman, beberapa pihak yang survei sudah bosan melihatnya. Hanya mengukur saja namun tidak ada tindak lanjut hingga sekarang. Terlebih saat ini sudah masuk musim penghujan lagi.

“Kami cemas dan sampai kapan kehawatiran warga disini berhenti. Apa kami harus transmigrasi lagi seperti warga lainnya yang rumahnya sudah terseret terlibih dahulu,” tandas dia.

(jaj/pojokjabar)

Loading...

loading...

Feeds