Satu Kampung di Dusun Cipareuag Sumedang Diterjang Banjir Lumpur

KORBAN: Sedikitnya 50 rumah warga menjadi korban dari banjir lumpur di Dusun Cipareuag Desa Sukadana, Kecamatan Cimanggung Selasa (23/10/18).

KORBAN: Sedikitnya 50 rumah warga menjadi korban dari banjir lumpur di Dusun Cipareuag Desa Sukadana, Kecamatan Cimanggung Selasa (23/10/18).

POJOKJABAR.com, SUMEDANG – Aparat pemerintahan Desa Sukadana, Kecamatan Cimanggung menyesalkan terjadinya bencana banjir lumpur di Dusun Cipareuag RT 03 RW 06.

Pasalnya, banjir lumpur tersebut diakibatkan dampak dari adanya pembangunan perumahan.

“Kami sangat menyesalkan kejadian ini, seperti diketahui, banjir lumpur terjadi kemarin sore sekitar pukul 16.30 WIB. Pasca-banjir, malam harinya langsung digelar pertemuan antara warga yang terkena dampak dengan pihak perusahaan yang dimediasi oleh unsur pemerintahan desa setempat,” kata Plt Desa Sukadana Didin Wahyudin didampingi Camat Cimanggung Herry Harjadinata dan Kapolsek Kompol Kuswanto, seusai meninjau lokasi kejadian di Komplek Perumahan Kampung Geulis, Rabu (24/10/18).

Didin menambahkan, adanya musyawarah itu, disepakati beberapa hal yang telah dituangkan dalam sebuah berita acara dan ditandatangani beberapa pihak, diantaranya Bhabinkamtibmas Brigadir Tri Widodo, Babinsa Nandang, Ketua BPD Komar Abdul Latif berikut Plt Desa Sukadana Didin Wahyudin.

“Ada lima poin yaitu warga masyarakat meminta pertanggungjawaban perusahaan atas dampak yang terjadi ke lingkungan berupa ganti rugi, pihak perusahaan harus membersihkan endapatn lumpur di wilayah terdampak, baik halaman rumah maupun saluran air, menghentikan sementara kegiatan pembangunan sebelum dapat membuktikan legalitas perizinan dan masyarakat bersedia musyawarah kembali dengan pihak perusahaan tanpa diwakilkan,” ucapnya.

Sementara itu, perwakilan Perum Kampung Geulis Josef Angi menjelaskan, pihaknya menyetujui apa yang menjadi tuntutan warga.

“Kami akan merealisasikan sejumlah tuntutan dari warga, tentunya secara bertahap. Ke depan juga kami akan bermusyawarah kembali dengan warga setempat,” katanya kepada wartawan.

Salah satu pemerhati lingkungan, Nandang Suherman mengatakan, pihak terkait agar dapat mengkaji ulang dan menentukan tanah mana saja yang bisa dijadikan permukiman dan tidak layak digunakan pemukiman.

“Di Sumedang ini telah banyak lahan yang dijadikan perumahan. Jangan sampai lahan konservasi daerah resapan air dan lahan hijau dijadikan kawasan perumahan,” ucapnya.

Terlebih, kata ia, jangan sampai ada dugaan praktek kongkalikong antara pengembang dengan pemberi izin.

“di lahan itu jika dilihat secara logis penggunaan lahan dan tingkat kemiringannya pun sudah tidak benar,” ucapnya.

(RBD/tha/pojokjabar)

loading...

Feeds