Categories: Priangan

Rumah Adat Kampung Naga di Tasikmalaya Semakin Dikenal di Dunia, Begini Kisahnya…

POJOKJABAR.com, TASIKMALAYA– Rumah adat Kampung Naga di Kecamatan Salawu Kabupaten Tasikmalaya kini mulai dikenal di dunia. Melalui Forum Internasional di Singapura pada awal Maret lalu, rumah adat Kampung Naga diperkenalkan sebagai warisan budaya yang memiliki keunikan dan harus dilindungi. Salah satu keunikan yang dimiliki oleh rumah adat Kampung Naga adalah bisa menurunkan suhu udara di ruangan.

Hal itu diungkapkan Maya Ruhtiani, SH MH LLM, dosen Sekolah Tinggi Hukum Galunggung (STHG) Tasikmalaya yang mempresentasikan Rumah Adat Kampung Naga, melalui Legal Protection of Traditional Architectural Design of The Kampung Naga Indonesia.

“Dengan diperkenalkannya rumah adat Kampung Naga di Forum Internasional tersebut, maka dunia Internasional mengakui bahwa rumah adat Kampung Naga merupakan warisan budaya milik Indonesia, tepatnya Kabupaten Tasikmalaya. Sehingga apabila ada pihak-pihak yang ingin menggunakan desain Rumah Adat Kampung Naga, maka harus meminta izin dulu ke pemerintah Kabupaten Tasikmalaya, dan bisa mendapatkan royalti,” ungkapnya saat menjelaskan pengalaman mengikuti Forum Internasional tersebut.

Maya menambahkan saat presentasi banyak sekali pertanyaan yang dilontarkan oleh perwakilan negara-negara peserta. Seperti dari Ukraina dan Jepang. Bahkan perwakilan dari UNESCO pun sempat melontarkan pertanyaan, mengapa desain Rumah Kampung Naga harus didaftarkan sebagai warisan dunia dari Indonesia ? Apa keunikan yang dimiliki ?

“Jawaban saya saat itu, keunikannya bisa menurunkan suhu udara. Kita ketahui suhu udara di Tasikmalaya rata-rata mencapai 30 derajat celcius, tapi ketika masuk ke Rumah Adat Kampung Naga, suhu udara di dalamnya menjadi adem, dan mereka pun terkesima sampai memberikan out standing performance,” paparnya lagi.

Baca juga: Semusim Berkarir di Persib Bandung, Michael Essien Blak-blakan Ungkap Pengalaman Luar Biasa

Forum Internasional yang diselenggarakan di Singapura itu, merupakan forum yang mempertemukan hasil-hasil penelitian dari berbagai negara di dunia. Kebanyakan peserta dari negara lain, lebih mennonjolkan penelitian tentang desain modern. Hanya perwakilan dari Indonesia saja yang menyampaikan hasil penelitian tentang kekayaan asli daerah.

“Langkah selanjutnya saya akan mengirimkan jurnal yang kemarin saya buat ke Korea Selatan, kemudian saya pun akan memperjuangkan agar ada kebijakan dari Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya untuk bisa melindungi aset-aset kekayaan turun temurun, budaya dan kekayaan ada asli daerah.,” pungkasnya.

(tin/pojokjabar)

Maryam

Recent Posts

Tambang Emas Ilegal di Sukabumi Berpotensi Timbulkan Bencana

Humas Perum Perhutani KPH Sukabumi, Yadi Siswandi mengakui banyaknya lahan perhutani yang rusak akibat adanya aktivitas pertambangan.

7 hours ago

TV Tiongkok Diskon Besar-besaran Saat Harbolnas, Warga Bogor Siap?

Hanya beberapa hari lagi masyarakat Indonesia akan dimanjakan dengan Harbolnas. Hari dimana belanja online dengan diskon yang besar. Seperti salah…

7 hours ago

Satgas Citarum Harum Resmikan Tempat Sampah di Wilayah Desa Cihanjuang

Upaya meningkatkan kesadaran warga dalam membuang sampah, Satgas Citarum Harum meresmikan tempat sampah di Dusun Bunter RW 03 Desa Cihanjuang

7 hours ago

Duh… Bocah 14 Tahun Asal Cimalati Cianjur Selatan Curi Motor

Polsek Naringgul berhasil meringkus pelaku pencurian sepeda motor yang kerpergok tengah beraksi.

7 hours ago

Gempa Magnitudo 5 di Minahasa Tenggara, BMKG Pastikan Tak Tsunami?

Gempa berkekuatan Magnitudo 5 terjadi di Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara, Senin (10/12/2018) sekira pukul 08.26 WIB.

8 hours ago

Tips Menabung untuk Liburan Akhir Tahun Kamu Nih, Dijamin Siap Liburan

Hanya tinggal beberapa minggu lagi tahun 2018 akan berganti tahun, namun yang menjadi pertanyaan sudahkan ada rencana untuk liburan bersama…

8 hours ago