Kasus Dugaan Penistaan Agama Dihentikan, Joban: Ada Apa dengan Polda Jabar?

Pimpinan Manhajush Sholihin, Muhammad Syahid Joban. (foto: ist)

Pimpinan Manhajush Sholihin, Muhammad Syahid Joban. (foto: ist)


POJOKJABAR.id, PURWAKARTA – Polda Jawa Barat (Jabar) resmi memberhentikan kelanjutan kasus dugaan penistaan agama Islam yang dilakukan oleh Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi. Penghentian kasus yang dilaporkan Manhajush Sholihin karena Polda Jabar tidak menemukan adanya bukti bahwa Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi menistakan agama Islam.

Menanggapi hal ini, Pimpinan majelis Manhajush Sholihin, Muhammad Syahid Joban mengatakan bahwa pihaknya tetap akan melanjutkan perkaran yang dia laporkan pada November 2015 lalu.

“Putusan Polda Jabar yang memberhentikan kasus penodaan agama Dedi Mulyadi itu sangat aneh dan mengganjal. Ada apa dengan Polda?” seru Joban kepada Pojokjabar, Jumat (22/4/2016).

Joban mengatakan, dugaan penistaan agama yang dilakukan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi tersebut sudah jelas cukup terbukti menodai agama Islam. Dia pun menyertakan sederetan poin dugaan penistaan tersebut sebagaimana yang ada di buku Spirit Budaya dan buku Kang Dedi Menyapa. Bahkan, kata dia lagi, MUI Purkwakarta juga telah membuat surat bantahan dan arahan kepada Dedi Mulyadi karena sudah menyimpang jalan.

“Ulama se-Jawa Barat juga sudah mendukung penuh langkah saya dengan menggalang 1.000 tanda tangan ulama untuk menyeret Dedi Mulyadi ke penjara, karena jelas menistakan agama Islam dan meresahkan umat Islam. ini merupakan tindak pidana!” tuturnya lagi.

Joban juga mengatakan, pihaknya saat ini sedang mendalami lagi alasan hukum Polda Jabar memberhentikan kasus dugaan penistaan agama Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi.

“Kami akan terus lanjutkan jihad ini. Perjuangan melawan penista agama belum berakhir sampai disni, dalam waktu dekat kami akan ajukan praperadilan dan langkah hukum lainnya,” ujar Joban.

Berikut beberapa poin dugaan penistaan agama Islam Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi dalam laporan Manhajush Sholihin:

1. Supaya urang sunda teu capek mangkat ka Mekkah, maka mun kuring kadi Presiden rek diinjem eta ka’bah dipindahkeun ka Purwakarta.

2. Ketika sampah mulai bersatu dengan dirinya, maka disitu sampah menjadi harum, kenapa? Karena Allah hadir pada sampah-sampah itu.

3. Kanjeng Rasulullah SAW ngajarkeun ka-islaman di tanah Mekkah, ngajarkeun naon eta teh? Ngajarkeun saripati ajaran sunda nu dibawa ka tanah mekkah.

4. Islam itu bagi saya, saya sunda, saya dengan menjadi sunda yang sebenarnya maka saya menjadi islam yang sebenarnya.

(izo/pojokjabar)

Loading...

loading...

Feeds