Pengacara Buruh Dr. Egi Sudjana, SH : Pihak Perusahaan Keras Kepala

Ilustrasi
Aksi solideritas paara buruh FSPMI di Pengadilan Negeri Purwakarta terhadap rekannya yang tengah menjalani sidang
Aksi solideritas paara buruh FSPMI di Pengadilan Negeri Purwakarta terhadap rekannya yang tengah menjalani sidang

 

POJOKJABAR.id,PURWAKARTA – Pengacara kondang, Dr Eggi Sudjana, SH, MSi angkat bicara menanggapi proses persidangan yang dijalani tiga buruh Purwakarta. Tiga terdakwa yang merupakan anggota Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Purwakarta ini disidangkan, karena diduga telah melakukan pengrusakan dalam aksi unjuk rasa di PT Indofood CBP Purwakarta 2014 lalu.

Eggi menjelaskan, akar permasalahan yang menyebabkan bentrok antara buruh dengan pihak kepolisian pada bulan Juli 2014 lalu itu, disebabkan oleh pihak perusahaan PT.Indofood CBP Purwakarta yang dianggap keras kepala. Pihak perusahaan kata dia, lebih memilih meminta bantuan pihak kepolisian, lawyer dan preman untuk mengamankan aksi unjuk rasa buruh yang menuntut haknya.

“Januari sampai April 2014 buruh telah berupaya menuntut haknya dengan menempuh proses. Sampai Juli 2014 buruh ini melakukan mogok kerja dan demo, tapi ternyata perusahaan tak kunjung mengabulkan tuntutan buruh, malah diabaikan. Kenapa perusahaan lebih memilih bantuan polisi, lowyer dan preman. Kenapa tidak bayar hak yang dituntut oleh buruh. Toh uang keamanan tetap saja dikeluarkan, ada apa ini,” kata Eggi, yang juga pengacara para buruh dalam kasus ini.


Dia menduga ada uang-uang yang mengalir kepada pihak keamanan yang mengamankan perusahaan saat jalannya unjuk rasa di perusahaan.

“Diduga ada indikasi korupsi, untuk kepentingan pengamanan. Ini harus diselidiki. Kami telah melaporkan hal ini ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK),” jelas dia.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang menangani perkara ini sambung dia, harus membuka mata lebar-lebar dan mencermati akar permasalahan ini. Karena ia menduga, yang telah melawan KUHP Pasal 170 dan 406 dalam insiden bentrok tersebut lebih banyak dilakukan oleh penegak hukum yang mengawal aksi unjuk rasa.

“Perusahaan dengan tangan polisi telah menghancurkan barang-barang buruh seperti 70 motor, melukai buruh yang sampai dirawat karena mengalami luka-luka. Dan satu orang buruh atas nama Yadi hari ini buta, tidak bisa melihat akibat bentrok itu,” papar dia.

Pihaknya menghimbau kepada hakim, agar menjalankan fungsi secara propesional dan harus betul-betul demi tuhan yang maha esa.

“Jika ada penyimpangan dalam kontek pengadilan, atau para buruh ini dihukum maka diduga keras hakimnya masuk angin,” papar dia.

Adapun nama-nama tiga terdakwa ini masing-masing Nurdiansah, Sandra dan Deni. Ketiganya dilaporkan PT Indofood CBP Purwakarta karena dinilai telah melakukan pengrusakan yang menyebabkan kerugian perusahaan dalam aksi unjuk rasa. Sampai saat ini, perjalanan persidangan di PN Purwakarta telah sampai pada tahap pemeriksaan saksi-saksi. (