Bupati : Generasi Muda Boleh Menguasai Teknologi tapi Jangan Tinggalkan Budaya

Bupati Purwakarta saat Pidato di Markas PBB di New York. ( foto medsos)

 

 

Bupati Purwakarta saat Pidato di Markas PBB di New York. ( foto medsos)
Bupati Purwakarta saat Pidato di Markas PBB di New York. ( foto medsos)

OJOKJABAR.id,PURWAKARTA – Berikut pidato Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, di hadapan 1000 lebih peserta yang memenuhi ruang sidang utama konfrensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Kota New York. “Generasi muda boleh menguasai teknologi, tapi tidak boleh meninggalkan budaya,” pidato Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi dengan nada yang penuh semangat.

Dedi juga membeberkan program- program pendidikan yang telah di terapkan di Purwakarta Jawa Barat, yaitu anak – anak sekolah sudah masuk sekolah sejak pukul 06.00 Wib. Kemudian para siswa saat berangkat dan pulang sekolah menggunakan sepeda.


Sebagian peserta tampak sibuk mencatat dengan piranti gadget mereka, sebagian lainnya menyimak dengan penuh perhatian.

Seperti di beritakan VOA Indonesia Rabu (19/08/2015), Kang Dedi memberikan pidato di markas PBB, Selasa, 18 Agustus 2015, menyampaikan pandangannya terkait kebudayaan dengan tema “Kepemimpinan Moral dan Inovatif” dengan visi layanan, kewirausahaan dan leadership, memenuhi undangan penyelenggara konferensi, IYLA (International Young Leader Assembly).

Konferensi PBB ini dihadiri oleh peserta anak-anak muda, mewakili lebih dari 60 negara.​Para pembicara dengan berbagai latar belakang dihadirkan dari Amerika Serikat, Paraguay, Kenya, Malaysia dan Indonesia. Khusus untuk Indonesia, selain Kang Dedi, juga dihadirkan tokoh muda Gugun Gumilar, pendiri Institute of Democracy and Education, yang juga staf ahli bidang pendidikan dan agama Dewan Perwakilan Daerah (DPD).

Pidato Kang Dedi ini memang mempunyai arti sendiri karena disampaikan pada saat Indonesia baru saja merayakan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 2015. Semula Kang Dedi berencana berpidato dalam bahasa Sunda sambil mempresentasikan wayang golek ke atas mimbar, namun terpaksa dibatalkan karena beberapa kendala dan alasan keamanan.

“Teknologi yang berkembang sekarang, apakah teknologi tepat guna atau high tech, harus dikembangkan menjadi produk advokasi, bagi perkembangan nilai kebudayaan yang ada di pedesaan,” tambah Kang Dedi tentang pentingnya hubungan antara teknologi, kebudayaan dan masyarakat di pedesaan.

Setelah konferensi berakhir, Kang Dedi sibuk menerima peserta yang ingin berkenalan, sambil berdiskusi tentang budaya Indonesia dan kota. (Adw)