Tiga Balita Idap HIV/AIDS

Ilustrasi

Ilustrasi

POJOKSATU.id, PURWAKARTA – Hingga April kemarin, jumlah penderita HIV/AIDS di Purwakarta mencapai 129 orang. Parahnya, 3 orang diantaranya masih berusia dibawah lima tahun. “Paling banyak diderita warga usia produktif, 25-49 tahun mencapai 103 orang,” kata anggota pengelola program Komite Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Purwakarta Wahyu Yulhaidir, kemarin.

Ia menjelaskan, data tersebut diperoleh setelah pihaknya melakukan studi lapangan, disamping hasil koordinasi dengan pihak Dinkes Purwakarta selaku leading sektor masalah kesehatan. “Jika dirinci, penderita HIV ini totalnya mencapai 129 orang. 3 orang usia balita, 6 orang usia dibawah 14 tahun, 4 orang usia 15-19 tahun, 10 orang usia 20-24 tahun. Tiga orang usia lansia di atas 50 tahun, dan paling banyak usia 25-49 tahun, 103 orang,” beber Wahyu.

Sementara jika dipetakan berdasarkan wilayah sebaran, terdapat 3 kecamatan yang paling dominan jumlah penderitanya. Ketiga kecamatan tersebut adalah Bungursari, Jatiluhur, dan Purwakarta kota. “Umumnya penyakit ini menyebar melalui penasun alias penggunaan jarum suntik, juga seks bebas,” terang Wahyu. Wahyu menambahkan, minimnya sosialisasi dan edukasi bahaya HIV/AIDS ikut menjadi penyebab makin banyak menularnya penyakit ini.

Apalagi, gaya hidup manusia sekarang cenderung fulgar. Dimana seks bebas dan narkoba cenderung menjadi bagian yang sulit dipisahkan. “Perlu ada upaya lebih massif kepada masyarakat sosialisasi dan edukasi tentang bahaya HIV/AIDS,” tukas Wahyu.
Sementara itu, berdasarkan data yang dirilis Dinas Kesehatan Kabupaten Purwakarta, sepanjang tahun 2014 ada 165 kasus gizi buruk yang ditemukan di Purwakarta. Kasusnya tersebar di 17 kecamatan dari Maniis hingga Cibatu.

Meski begitu, pihak Dinkes mengklaim 50 persen lebih dari jumlah kasus tersebut telah ditangani. Salah satunya melalui program penyediaan Bank Gizi di tiap Puskesmas. “50 persen atau 82 kasus sudah ditangani hingga akhir 2014,” kata Kepala Seksi Gizi Dinas Kesehatan Kabupaten Purwakarta dr Eva Listia Dewi, kemarin.

Eva juga menampik kasus gizi buruk tersebut dampak kurangnya suplai makanan. Sebaliknya, rata-rata diakibatkan adanya penyakit penyerta di tubuh korban. Karena nafsu makan kurang, akhirnya gejala gizi buruk melanda. Secara fisik ini ditandai kondisi tubuh yang mengecil sementara di bagian perut membuncit.

“Dari 82 kasus yang sudah ditangani oleh kami, justru semuanya gizi buruk yang disertai penyakit penyerta, bukan karena asupan makanan yang kurang,” tandasnya. Tahun lalu, untuk penanganan kasus gizi buruk, Pemerintah Kabupaten Purwakarta mengalokasikan anggaran Rp 1,085 miliar.

Dana tersebut berada dibawah koordinasi Dinas Kesehatan. Dan secara teknis, sebagian anggarannya didistribusikan melalui 17 puskesmas di Purwakarta dengan nama program Bank Gizi. Rata-rata puskesmas mendapat suplai anggaran Rp 50 juta. Pihak Dinkes pun menarget kasus gizi buruk dapat ditekan hingga nol persen pada tahun 2015 ini.

Hal ini diupayakan melalui optimalisasi program bank gizi yang ada di tiap puskesmas, juga program penambahan gizi bagi pelajar dalam rangka membentuk pelajar Purwakarta Tangguh melalui Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Purwakarta. Dalam dokumen APBD 2015, program pencegahan gizi buruk di lingkungan Dinkes Purwakarta kembali dialokasikan, namun tidak sebesar tahun lalu yakni hanya sebesar Rp 880 juta. (nos)

Feeds