Takut Nyawa Melayang, Puluhan Siswa SD Tak Pergi Sekolah

Anak-anak SD di Desa Kertamukti Kecamatan Maniis Purwakarta, saat menyeberangi sungai hendak berangkat ke sekolah
Anak-anak SD di Desa Kertamukti Kecamatan Maniis Purwakarta, saat menyeberangi sungai hendak berangkat ke sekolah
Anak-anak SD di Desa Kertamukti Kecamatan Maniis Purwakarta, saat menyeberangi sungai hendak berangkat ke sekolah

POJOKSATU.id, PURWAKARTA – Musim hujan membuat para siswa SDN 2 Kertamukti, Desa Kertamukti, Kecamatan Maniis, Purwakarta, Jawa Barat, tak pergi sekolah. Mereka takut bertaruh nyawa saat menyeberangi sungai yang arusnya cukup deras.

“Abdi mah hoyong dipangadamelken jembatan ku bapa bupati, supaya bisa nyeberang solokan trus sakola unggal poe,” ujar Wisnu, salah seorang siswa dengan polosnya menggunakan bahasa Sunda.

Sementara itu, salah seorang guru di SDN 2 Kertamukti membenarkan hal tersebut. Ia mengatakan, para murid SD tidak bisa berangkatt sekolah saat banjir karena takut menyeberangi  sungai.

“Jumlah siswa yang sering tidak masuk sekolah saat hujan dari kelas I-VI sekitar 50 orang,” ujar Dede Saprudin, salah seorang guru SDN 2 Kertamukti, Minggu (19/4).


Ia khawatir, para siswa kelas VI yang hendak UN, karena bila turun hujan, sungai yang mereka seberangi dipastikan akan banjir. Dampaknya siswa tidak akan pergi ke sekolah dan tidak bisa mengikuti UN.

“Kita sedang mencari solusi terbaik agar para siswa kelas VI bisa ikut UN, tidak terkendala dengan banjir saat menyebrangi sungai,” tambahnya.

Menurut dia, bila banjir datang saat UN, solusinya para orang tua siswa kelas VI, harus bergotong royong menyebrangkan anak-anaknya agar sampai ke tujuan untuk mengikuti UN.

“Pake tambang dibentangkan, dari tepi sungai ke sebrang sungai, kemudian para orang tua beramai-ramai menyebrangkan anak-anaknya,” terangnya.

Selain harus melewati sungai Curug Walanda, para siswa juga ternyata berjalan kaki dari rumahnya hingga 3-4 kilometer.

“Setelah berjalan sekitar 3-4 kilometer mereka juga harus menyeberangi sungai. Tapi kalau banjir biasanya mereka pulang lagi ke rumahnya masing-masing, karena akses jalan lain tidak ada,” pungkas Dede.

(adw)