Soal Pedagang Tolak Relokasi, Begini Penjelasan Ketua PPKL Pasar Rengasdengklok

Spanduk Penolakan Relokasi Para Pedagang Pasar Rengasdengklok
Spanduk Penolakan Relokasi Para Pedagang Pasar Rengasdengklok. (Yusup/Pojokjabar)

POJOKJABAR.com, KARAWANG – Dengan adanya beberapa spanduk yang terbentang di depan Kantor Kecamatan lama Rengasdengklok itu sebagai bukti dari para pedagang tradisional Rengasdengklok lama yang menolak untuk direlokasi ke Pasar Proklamasi Rengasdengklok.


Alasannya karena harga kios yang sangat mahal sehingga memberatkan para pedagang.

Menurut, Jejen Sopyan, Ketua Persatuan Pedagang Kaki Lima (PPKL) Pasar Tradisional Rengasdengklok Lama saat dikonfirmasi Pojok Jabar di kediamannya, menyampaikan bahwa sebelumnya kurang lebih ada 900 pedagang yang sudah terdaftar untuk pindah ke Pasar Proklamasi Rengasdengklok. Adapun Pro dan Kontra itu merupakan hal yang biasa terjadi di Pasar-pasar.

“Terus terang saja para pedagang sudah ada 900 lebih yang sudah daftar dan yang belum daftar ada kisaran 300 mah, tapi mereka juga sudah mau daftar,”


“Biasalah di pasar mah hal-hal kaya begini mah mau di Cibitung, Cikampek, ya fenomena seperti ini mah sudah biasa jadi tidak kaget lagi kalau ada pro dan kontra,” katanya.

Masih menurut Jejen Sopyan Ketua PPKL Pasar Rengasdengklok Lama bahwa sebelumnya ia tidak terlibat dalam penanda tanganan berita acara surat kesepakatan pedagang Pasar Rengasdengklok pada tahun 2018 yang di tanda tangani oleh Ketua Ikatan Pedagang Pasar Rengasdengklok (IPPR), General Manager PT Visi Indonesia Mandiri (VIM) dan diketahui oleh Kepala Unit Pasar Rengasdengklok serta Disperindag Kepala UPTD Wilayah I Kabupaten Karawang.

“Ini kan sudah jelas tanda tangannya di atas materai, ya saya juga gak mau tanda tangan seperti ini. Gak mungkin kan PT VIM mau membangun kalau tanpa ada tanda tangan diatas materi kesepakatan ini, Ya kesini juga saya menyetujui. cuma, kan menyetujui dalam hal penolakan sekarang ini bukan penolakannya,” katanya.

Ia juga mengatakan bahwa bentuk penolakan dari para pedagang itu bukan penolakan relokasi, namun itu bentuk penolakan pemagaran untuk pembangunan Ruang Terbuka Hijau yang terlalu mepet ke lokasi toko para pedagang dan akhirnya di tolak oleh para pedagang.

“Saya kasih tahu penolakan itu penolakan pemagaran bukan penolakan relokasi, jadi penolakan pemagaran teh kemarin mau dipagar untuk dijadikan taman kota ruang terbuka hijau cuma saya juga nolak kemarin juga saya kirim surat ke bupati menolak pemagaran ini, ya gimana gak nolak pemagaran ngahantem toko orang, ya akhirnya nolak semua, Hasan dari IPPR nolak, saya juga nolak,” katanya.

Kemudian, Jejen juga menuturkan, satu atau dua dari para pedagang yang menyetujui dan menolak karena para pedagang tidak satu suara dengan berbagai macam tuntutan. Adapun tujuan dirinya sebelum dilaksanakannya pembangunan pemagaran Taman Ruang Terbuka Hijau itu harus sesuai dengan kesepakatan sebelumnya.

“Karena orang kan benaknya beda-beda ada yang begini, ada yang begitu tidak bisa sama. Kalau tujuan saya mah satu ketika akan dilakukan pemagaran para pedagang harus sudah pindah semua karena kemarin kan kesepakatannya seperti itu kan, sama Hasan juga kesepakatannya begini dari IPPR juga, jadi maunya pedagang pindah dulu kesana baru dilaksanakan pemagaran, cuma dari DLHKnya kaya keburu nafsu terus,” ujarnya.

Selain itu, Jejen Sopyan Ketua PPKL, juga mengungkapkan dirinya terus menyampaikan protes kepada pemerintah Kabupaten Karawang agar Pihak Pengembang PT Visi Indonesia Mandiri (VIM) bisa menurunkan harga kiosnya.

“Emang mahal pastinya para pedagang juga keberatan, saya juga kan terus-terusan lakukan protes ke pemerintah cuma para pedagang aja nggak tahu saya terus protes ke pemerintah, ke PT VIM untuk minta turun harga, ya tetap aja dari jawabannya dari PT VIM maaf-maaf aja, karena kebanyakan koordinasinya gitu. Ya supaya para pedagang dapat harga yang murah dari Pemda gitu, karena Pemda kan ntar menekan ke PT VIM bagaimana caranya,” ujarnya.

“Satu lagi kan supaya para pedagang nyaman berjualan dan tidak merasa keberatan dengan harga-harga kiosnya,” katanya.

Di tempat terpisah, Agung Djaja Putra sebagai General Manager PT Visi Indonesia Mandiri (VIM) saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp bahwa dalam hal ini tidak bisa memberikan komentar apa-apa.

“Maaf Kami tidak mau kasih komentar,” katanya. (Yusup/Pojokjabar)