Pandemi Covid-19, Beberapa Kebiasaan di SMPN 1 Karawang Timur Hilang Sejak PJJ

Kepsek SMPN 1 Karawang Timur, Drs UuS sugiana M.Pd (baju coklat) dan Komite Sekolah di Karawang, H. Wawan Setiawan, S.E. MM, (kiri)./Foto: Istimewa

Kepsek SMPN 1 Karawang Timur, Drs UuS sugiana M.Pd (baju coklat) dan Komite Sekolah di Karawang, H. Wawan Setiawan, S.E. MM, (kiri)./Foto: Istimewa


POJOKJABAR.com, KARAWANG.com– Kepsek SMPN 1 Karawang Timur, Drs UuS sugiana M.Pd mengaku kegiatan sekolah pada masa PPKM Level 4 ini adalah bukan hal baru.

“Kami melaksanakan pembelajaran jarak jauh, ya,” ujarnya kepada Pojokkarawang.com, Jumat (30/7/2021).

Pandemi Covid-19 sendiri, jelasnya, sudah berlangsung kurang lebih 1,5 tahun.

“Mulai 16 Maret 2020 kita mempersilahkan anak untuk belajar di rumah, sementara guru-guru tetap melaksanakan pembelajaran di sekolah,” bebernya.

Para guru, katanya, saat itu menyebar di berbagai sudut di sekolah.

“PPKM Darurat ini, karena super ketat terkait protokol kesehatan, akhirnya kami mempersilahkan kepada teman-teman guru, tidak mewajibkan melaksanakan pembelajaran anaknya di rumah, guru di sekolah,” imbuhnya.

Pembelajaran di rumah masing-masing, dengan metode dan strategi masing-masing.

“Yang ada di sekolah mungkin hanya kepala sekolah, para wakasek, terus staf tata usaha. Karena staf tata usaha itu layanan administrasi. Jadi, mau tidak mau harus ada di sekolah,” terangnya.

Kegiatan yang hilang saat ini, ujarnya, kegiatan transfer ilmu secara langsung dan kegiatan mendidik.

“Terutama terkait pendidikan karakter,” katanya.

Menurutnya, pembelajaran saat ini tak optimal karena hanya 2 jam sehari (daring, red) dari biasanya 8 jam sehari (tatap muka, red).

“Mau tidak mau, optimalisasi pembelajaran ini agak sedikit berkurang,” jelasnya.

Pihaknya mengakui bahwa PJJ ini banyak kekurangan.

“Karena keselamatan keluarga lebih utama, jadi PJK tetap berjalan,” ujarnya.

Kebiasaan lain yang hilang, katanya, dimana murid mengenal guru-gurunya hingga berbagai lokasi di sekolah.

“Pendidikan karakter yang berlangsung sejak dulu, misalkan anak ngaji bareng, Yasinan bareng, hari-hari tertentu Asmaul Husna sebelum belajar, pembelajaran karakter lainnya seperti Salat Dhuha,” bebernya.

Sekalipun ada alat ukur, ia mengaku tidak bisa mengetahui pasti apakah anak jujur mengisi alat ukur ataupun tidak.

“Kalau dilaksanakan di sini jelas ketahuan,” katanya.

Kebiasaan lain yang hilang, pihaknya bisa menyambut murid dan murid cium tangan.

“Yang tidak kalah penting, ekstrakulikuler.Ekstrakukikuler mendisiplinkan anak, tapi (saat ini, red) berpotensi melanggar protokol kesehatan,” katanya.

“Apapun itu namanya, apapun kesulitannya, untuk anak-anak SMPN1 Karawang Timur, ikutin,” jelasnya.

Lanjutnya, manfaatkan bantuan kuota dari pemerintah untuk pembelajaran.

“Lanjutkan kebiasaan (di sekolah, red), tetap protokol kesehatan,” tandasnya. (Ega/mar/pojokjabar)

Daftar untuk Tonton Launching Motor Honda New PCX Klik Disini
Loading...

loading...

Feeds