Kisah Pasutri Manula, Berjualan Pisang Tak Jauh dari Hotel Resinda Karawang

Sain dan Sarem jualan pisang di Jalan Interchange Karawang Barat./Foto: RK

Sain dan Sarem jualan pisang di Jalan Interchange Karawang Barat./Foto: RK


POJOKKARAWANG.com– Pasangan suami istri Sain (90) dan Sarem (80) yang telah lanjut usia tetap berjualan pisang di pinggir Jalan Interchange Karawang Barat, tidak jauh dari Hotel Resinda.

Meski memiliki empat orang anak, namun mereka tidak mau menggantungkan hidup pada orang lain.

Meski sudah tua, tidak menjadi alasan untuk tetap berusaha. Ingin hidup mandiri dan tidak mau menyusahkan anak, jadi motivasi pasangan suami istri yang sudah berusia lanjut berjualan pisang.

Fisik yang sudah menua dan renta tidak menyurutkan semangat pasangan

“Anak empat, ada di Karawang semua,” ujar Sain (90), Senin (29/3).

Berjualan pisang sejak bulan Februari lalu. Pisang yang dibawa sebanyak 20 kilogram setiap hari. Jam jualan dari pagi hingga satu siang.

Memilih pinggir jalan untuk tempat jualan disebabkan karena sudah tidak sanggup membawa pisang sambil berkeliling. Ia asli warga Desa Wadas, Kecamatan Telukjambe Timur.

Ia tidak ingin menyusahkan keempat anak. Selain itu ia pun tidak ingin menjadi bahan perbincangan menantu. Awal mula berdagang akibat banjir yang terjadi di Desa Wadas.

“Harga satu sisir pisang sebesar Rp20 ribu,” terangnya.

Penghasilan yang diperoleh dalam sehari tidak menentu. Sehari terkadang bisa memperoleh Rp100 ribu. Tak jarang, ada pembeli yang hanya memberikan uang saja tanpa membeli pisangnya karena iba.

“Kami juga sering dapat uang doang dari pembeli, waktu ditawarin pisang justru nolak,” pungkas Sarem, istri penjual pisang.

(RK/pojokkarawang)

Daftar untuk Tonton Launching Motor Honda New PCX Klik Disini
Loading...

loading...

Feeds