Soal Kasus Rebutan Hak Asuh Anak, FKUB Imbau Masyarakat Hormati Proses Hukum

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Karawang, KH.Tajudin Nur

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Karawang, KH.Tajudin Nur


POJOKJABAR.com, KARAWANG – Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) ikut berkomentar soal kasus perebutan hak asuh anak korban perceraian kedua orang tuanya yang sedang viral di Karawang.

Anak yang dimaksud berinisial MSAA (5) yang akan dieksekusi oleh Pengadilan Agama Karawang pada Selasa, 21 Januari 2020. MSAA merupakan anak kandung dari Azwir Nur dan Anastasia Monica Maghdalena.

Berdasarkan hasil keputusan pengadilan, hak asuh anak jatuh kepada ayah kandungnya yakni Azwir Nur. Namun Anastasia tak terima dengan putusan itu sehingga harus dilakukan eksekusi.

Ketua FKUB Karawang, KH Tajudin Nur, berharap semua pihak menghormati proses hukum yang sedang berjalan. Tujuannya agar permasalahan tersebut tidak melebar dan bisa selesai dengan cara damai.

“FKUB sudah berusaha melakukan upaya konkrit konsultasi dengan TNI dan Polri beberapa hari lalu,” ujar Tajudin, kepada Pojokjabar.com, Sabtu (18/1/2020).

Selain itu, FKUB sudah melakukan pertemuan dengan Majlis Ulama Indonesia (MUI) dan disepakati beberapa hal dalam menyikapi masalah ini.

Pertama, kata Tajudin, MUI dan FKUB sepakat untuk mengawal kasus ini sampai tuntas. Kedua, mengimbau kepada masyarakat untuk menghormati proses hukum yang sedang berjalan. Ketiga mengimbau kepada petugas Pengadilan Agama mempertimbangkan psikologis anak dan keluarga.

“Selain anak, misalnya nenek dan kakeknya itu harus dijaga psikologisnya. Karena walaupun beda keyakinan agama, tapi kasih sayang mereka terhadap cucu tetap sama,” ucap Tajudin.

Dalam proses eksekusi nanti, lanjut Tajudin, pengadilan tidak perlu menghadirkan anak demi menjaga psikologis. Bahkan, hal itu sudah diatur dalam undang-undang, bahwa anak usia dibawah 12 tahun tidak perlu ada di lokasi. Sedangkan anak di atas 12 tahun ditanya lebih memilih ikut ibu atau ayahnya.

“Yang tidak kalah penting, saya harap orang yang tidak ada kepentingan dalam masalah ini agar tidak hadir di lokasi, termasuk kami dari FKUB,” ujar Tajudin.

Sementara itu, Tajudin enggan berkomentar banyak perihal penyebab kasus ini mencuat dan jadi perhatian publik. Soal kabar adanya intervensi keyakinan beragama, kata Tajudin, hal itu perlu dikonfirmasi kebenarannya kepada keluarga berperkara.

(Ega/Pojokjabar)

Loading...

loading...

Feeds